Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Sinar Mas Agro (SMAR) Andalkan Kas Internal untuk Bayar Utang

Per Desember 2019, total liabilitas perseroan mencapai Rp16,85 triliun. Dari jumlah tersebut, liabilitas jangka pendek tercatat Rp10,67 triliun.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 29 April 2020  |  17:38 WIB
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk - Istimewa
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. optimistis dapat melunasi kewajiban utang menggunakan kas internal.

Berdasarkan laporan keuangan 2019, total liabilitas perseroan mencapai Rp16,85 triliun. Dari jumlah tersebut, liabilitas jangka pendek tercatat Rp10,67 triliun .

Dalam komponen liabilitas jangka pendek, emiten berkode saham SMAR itu memiliki utang bank jangka pendek sebesar Rp6,85 triliun, utang usaha pihak ketiga Rp1,36 triliun dan utang bank yang akan jatuh tempo dalam setahun Rp1,03 triliun. Namun, di sisi lain kas dan setara kas akhir periode 2019 hanya  mencapai p969,28 miliar.

Pinta S. Chandra, Investor Relations Sinar Mas Agribusiness and Food mengatakan likuiditas perseroan masih dalam posisi aman. Dia pun menegaskan kewajiban akan dilunasi melalui kas operasional atau melalui skema refinancing.

Pinta menambahkan untuk pinjaman modal kerja, biasanya bersifat self-liquidating, dapat diperpanjang dan sangat terkait dengan aset lancar bisnis hilir. Dia pun mengakui salah satu faktor penentu adalah pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil yang cenderung fluktuatif.

“Namun demikian, secara jangka panjang, SMART telah menerapkan strategi untuk memperkuat bisnis operasionalnya yang terintegrasi secara vertikal,” katanya kepada Bisnis, Rabu (29/4/2020).

Perseroan juga baru saja menerbitkan surat utang senilai Rp750 miliar, lebih rendah dari target yang coba dihimpun sebesar Rp1 triliun. Dana itu sepenuhnya digunakan untuk meningkatkan kapasitas bisnis biodiesel.

Mengenai perubahan jumlah surat utang, Pinta menyebutkan bahwa pada dasarnya tidak ada perubahan, karena pada awal penerbitan prospektus disebutkan bahwa nilai Rp 1 triliun adalah nilai maksimum penerbitan di tahap pertama.

Dia pun menyebutkan kinerja kuartal II/2020 akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga pasar minyak sawit internasional.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sinarmas harga cpo
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top