Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Harga Minyak Tertekan, Pasar Saham Global Bergerak Variatif

Bursa Asia bergerak variatif bersama kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat dan Eropa, saat beberapa negara di dunia mempertimbangkan untuk membuka kembali aktivitas perekonomian mereka.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 28 April 2020  |  14:28 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia bergerak variatif bersama kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat dan Eropa, saat beberapa negara di dunia mempertimbangkan untuk membuka kembali aktivitas perekonomian mereka.

Berdasarkan data Bloomberg, kontrak berjangka indeks S&P 500 turun 0,2 persen pada perdagangan Selasa (28/4/2020) pukul 3 siang waktu Tokyo (pukul 13.00 WIB), setelah indeks saham acuan S&P naik tajam 1,4 persen pada perdagangan Senin (27/4/2020).

Pada saat yang sama, futures Euro Stoxx 50 naik 0,1 persen, indeks Topix Jepang juga naik 0,1 persen, dan indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,1 persen.

Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,4 persen, indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,9 persen, dan indeks Shanghai Composite China bergerak flat.

Bursa saham China berfluktuasi menyusul sebuah laporan bahwa Negeri Tirai Bambu akan melonggarkan beberapa aturan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Investor kemudian menantikan serangkaian laporan kinerja disertai proyeksi perusahaan pekan ini, antara lain oleh Amazon.com Inc., Barclays Plc., dan Samsung Electronics Co.

Pada Senin (27/4) Deutsche Bank AG meluncurkan laporan kinerja yang secara mengejutkan positif, meskipun memperingatkan tentang default kredit.

Sementara itu, Komisi Eropa berencana untuk mengumumkan langkah-langkah bantuan modal pada Selasa (28/4) guna membantu menjaga pinjaman tetap mengalir.

“Yang sangat penting adalah untuk tidak terlalu nyaman dengan laju pasar ekuitas dalam beberapa pekan terakhir,” ujar George Toubia, chief investment director di Westpac Private Wealth.

“Mengingat pasar telah berjalan cukup sedikit dalam beberapa pekan terakhir, ini adalah lingkungan yang jauh lebih selektif,” tambahnya.

Terkait perkembangan seputar Covid-19, angka kasus baru di Amerika Serikat dilaporkan meningkat dengan laju paling lambat bulan ini. Sejumlah negara bagian seperti Florida dan Ohio mengambil langkah untuk melonggarkan pembatasan.

Italia juga melaporkan level infeksi baru terendah dalam tujuh pekan dan bersiap untuk mulai membuka kembali aktivitas perekonomiannya.

Di pasar komoditas, harga emas di pasar spot melorot 1,2 persen ke level US$1.693,72 per troy ounce. Adapun, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate anjlok 12 persen ke level US$11,23 per barel setelah jatuh 24 persen pada Senin (27/4).

Harga minyak mentah terjun bebas setelah ETF (exchange-traded fund) minyak terbesar di dunia mengatakan akan menjual posisi minyak mentah berjangka WTI kontrak Juni karena level penyimpanan minyak fisik membengkak.

“Sebagian tekanan penurunan terutama dalam kontrak Juni adalah kurangnya likuiditas yang meningkat,” ujar John Kilduff dari Again Capital LLC.

“Ini tidak hanya datang dari USO, tetapi juga karena broker, seperti Marex Spectron dan TD Ameritrade, membatasi kemampuan para klien untuk menambah posisi baru pada kontrak minyak mentah tertentu,” terangnya, seperti dilansir melalui Bloomberg.

Menurut Kilduff, hal tersebut akan memperburuk sentimen pasar ditambah dengan kondisi suplai minyak fisik berlebih dan kurangnya penyimpanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top