Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tiga Anak Usaha Setop Operasi, Bagaimana Nasib Produksi Bayan Resources (BYAN)?

Bayan Resources memperpanjang penghentian sementara operasional 3 anak usaha hingga 14 Mei 2020.
Terminal Batu Bara Balikpapan. Terminal yang dikelola oleh PT Bayan Resources Tbk. merupakan salah satu terminal curah terbesar di Indonesia./bayan.com.sg
Terminal Batu Bara Balikpapan. Terminal yang dikelola oleh PT Bayan Resources Tbk. merupakan salah satu terminal curah terbesar di Indonesia./bayan.com.sg

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tambang batu bara PT Bayan Resources Tbk. memperpanjang penghentian kegiatan operasional tiga entitas anak usaha hingga 14 Mei 2020.

Perpanjangan penghentian sementara operasional tiga anak usaha dilansir manajemen Bayan Resource melalui keterbukaan informasi perseroan di laman Bursa Efek Indonesia, Rabu (15/4/2020).

Emiten berkode saham BYAN itu memperpanjang penghentian kegiatan operasional tiga entitas anak usahanya, yaitu PT Bara Tabang (PT BT), PT Fajar Sakti Prima (PT FSP), dan PT Indonesia Pratama (PT IP). 

Adapun, PT BT dan PT FSP adalah entitas anak usaha BYAN yang memiliki ijin usaha pertambangan operasi produksi dengan wilayah tambang di Kecamatan Tabang, Kalimantan Timur. Sementara itu, PT IP merupakan kontraktor dari PT BT dan PT FSP.

Untuk diketahui, emiten tambang dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia ini  semula telah menjadwalkan penghentian sementara kegiatan operasional tiga entitas anak usaha itu hingga 30 April. Namun, saat ini diperpanjang hingga 14 Mei 2020.

“Perpanjangan penghentian kegiatan operasional tersebut dilakukan mengingat jumlah infeksi Covid-19 di Indonesia semakin meningkat, terutama bertambahnya jumlah orang yang di bawah pengawasan di Kalimantan Timur, dan guna melaksanakan social distancing dari pemerintah untuk menghambat rantai penularan,” ujar Direktur Bayan Resources Alastair Mcleod.

Manajemen mengaku perpanjangan penghentian operasi tersebut tidak berdampak material terhadap kondisi keuangan dan kelangsungan usaha perseroan.

Kendati demikian, S&P Global Rating memprediksi perseroan mengalami penurunan produksi sekitar 2 juta ton seiring dengan pemberhentian sementara operasional di tiga entitas anak usahanya. 

Apalagi jika penangguhan aktivitas tambang itu diperpanjang hingga lebih dari tiga bulan, maka penurunan produksi dapat turun lebih tajam.

“Kami memproyeksikan produksi batubara akan turun di bawah 30 juta ton pada tahun 2020, jauh lebih rendah dibandingkan dengan capaian tahun lalu sebesar 32 juta ton,” tulis S&P Global Rating seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (14/4/2020).

Meski BYAN telah mengantongi kontrak penjualan hingga 29,6 juta ton untuk tahun ini, pemenuhan kontrak-kontrak itu tetap tidak pasti dalam situasi saat ini. S&P Global Rating pun memperkirakan BYAN akan menggunakan inventori batu baranya  sekitar 6 juta ton sehingga volume penjualan sebagian besar tidak berubah.

Selain itu, pembatasan sosial dan perjalanan lebih lanjut dapat menunda ekspansi perseroan dan penyelesaian jalan angkut Mahakam, yang masih menunggu persetujuan izin lahan.

Secara umum, S&P Global Rating menilai likuiditas BYAN tetap memadai untuk menahan penurunan arus kas operasi. Untuk diketahui, perseroan pada awal tahun ini telah menerbitkan obligasi senilai US$400 juta dan memiliki saldo tunai US$175 juta pada akhir 2019.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper