Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pilih-Pilih Saham dengan Cuan Dividen Menggiurkan

Melakukan diversifikasi investasi yang imbal hasilnya berasal dari dividend yield menjadi rekomendasi Mirae Asset Sekuritas di tengah kondisi pandemi seperti ini.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 13 April 2020  |  07:59 WIB
PT United Tractors Tbk. menyumbang 3 unit Bus Transjakarta - Bisnis.com/Miftahul Khoer
PT United Tractors Tbk. menyumbang 3 unit Bus Transjakarta - Bisnis.com/Miftahul Khoer

Bisnis.com, JAKARTA – Dalam variasi waktu, jenis  investasi terbagi dua yakni investasi jangka panjang dan pendek. Namun di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, pasar saham seperti yang terpantau sejak beberapa minggu terakhir ini bergerak liar.

Karena itu, berpegangan pada capital gain saja tampaknya bukan pilihan yang bijak. Berdasarkan data statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri sudah turun 26,20 persen ke level 4.649,08 pada penutupan pasar Kamis (9/4/2020).

Karenanya, melakukan diversifikasi investasi yang imbal hasilnya berasal dari dividend yield menjadi rekomendasi Mirae Asset Sekuritas di tengah kondisi pandemi seperti ini.

Alasannya, investasi berbasis dividend yield merupakan strategi investasi yang lambat namun mantap. Harga saham yang mayoritas anjlok baru-baru ini berpotensi memperpendek periode payback.

Dengan demikian, memilih perusahaan dengan rekam jejak yang terbukti dalam memberikan keuntungan dan memberikan dividen adalah kunci konsistensi dari strategi ini.

Beberapa perusahaan menawarkan dividen tinggi, tetapi tidak menunjukkan pertumbuhan selama bertahun-tahun. Namun, secara umum, perusahaan blue chip di Indonesia memiliki rekam jejak yang terbukti selama bertahun-tahun. 

Di sinilah perlu diperiksa konsistensi perusahaan tersebut dalam hal kinerja keuangan dan kebijakan pemberian dividen. Diversifikasi portofolio saham dari berbagai industri menjadi sangat penting ditambah dengan mewaspadai jikalau perseroan memotong dividennya.

Oleh karena itu, yang perlu investor mengantisipasi tanda-tanda seperti; pendapatan menurun secara struktural atau memperlambat pertumbuhan pendapatan, hutang berlebihan dan kas yang minim atau bahkan negatif.

Analis Handiman Soetoyo dan Kevin Suryajaya dari Mirae Asset Sekuirtas menyarankan investor untuk membangun portofolio saham dividen dari berbagai industri yang memiliki rekam jejak payout ratio dividen yang tinggi.

Menurut keduanya, beberapa saham menawarkan imbal hasil dividen yang tidak cukup tinggi namun juga tidak terlalu rendah seperti saham di sektor perbankan. Namun industri tersebut adalah proksi pekonomian.

Oleh karena itu, seiring dengan pertumbuhan ekonomi, dividen yang diberikan emiten sektor perbankan kemungkinan akan meningkat.

Analis pun merekomendasikan saham bank dengan rekam jejak yang terbukti seperti BBRI, BMRI, dan BBCA. Ketiganya dianggap menawarkan yield yang besar dalam jangka panjang.

“Kami juga menyukai BJTM karena pernah secara tidak resmi perseroan menyatakan pembagian dividen tidak akan pernah lebih rendah dari tahun sebelumnya. Perusahan keuangan lain yang kami rekomendasikan adalah ADMF karena pertumbuhannya yang kuat, manajemen yang luar biasa, dan kebijakan dividen yang konsisten,” jelas keduanya dalam riset.

Emiten PTBA dan ITMG juga menjadi favorit karena memberikan imbal hasil dividen yang sangat tinggi. Meskipun harga komoditas fkuktuatif, keduanya masih berhasil memberikan keuntungan dan menawarkan dividen yang besar.

HEXA juga diyakini cukup menarik perhatian karena kebijakan dividennya yang tinggi dan konsisten. Dan di sisi lain, UNTR sebagai entitas anak grup Astra mulai berekspansi merambah bisnis baru yakni penambangan emas yang dinilai akan menambah pendapatannya.

Adapun, TLKM juga dianggap konsisten dalam hal imbal hasil dividen ditambah dengan kinerja keuangannya dan performanya yang semakin kuat.

“Untuk sektor konstruksi, kami lebih suka perusahaan swasta seperti TOTL karena kinerja keuangannya yang lebih sehat dan hasil dividen yang lebih tinggi. Kami juga menyukai WSBP karena meskipun harga sahamnya terkoreksi tajam, yield dividennya selalu diatas 10 persen ditambah dengan dukungan induk perseroannya WSKT," sambung keduanya

Dari sektor consumer goods, beberapa emiten yang direkomendasikan ialah UNVR, HMSP, GGRM, dan INDF. UNVR telah mempertahankan pembayaran dividen hampir 100 persen kecuali pada tahun buku 2010 dan 2011.

HMSP juga secara konsisten membayarkan dividen dengan payout ratio hampir 100 persen selama 1 dekade terakhir ditambah dividen khusus dari saldo laba untuk tahun buku 2009, 2010 dan 2014.  Sementara itu, INDF konsisten membagikan dividen 50 persen dalam delapan tahun terakhir.

“Sebagai rangkuman, saham dividen yang kami rekomendasikan adalah: ADMF, BBCA, BBRI, BJTM, BMRI, GGRM, HEXA, HMSP, INDF, ITMG, PTBA, TLKM, TOTL, UNTR, UNVR, dan WSBP. Risiko dari rekomendasi kami adalah pepatah kalau kinerja masa lalu tidak bisa menjamin masa depan. Karena itu diversifikasi dan memutuskan dengan bijaksana adalah hal yang perlu dilakukan,” pungkas keduanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dividen rekomendasi saham
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top