Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Koreksi IHSG dari Awal Tahun, OJK: Ini Penurunan Terdalam Sepanjang Sejarah

Dalam menjaga pasar saham dalam negeri di tengah pandemi corona, OJK pun telah merilis beberapa kebijakan, salah satunya memperbolehkan emiten untuk melakukan buyback tanpa RUPS.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 07 April 2020  |  13:47 WIB
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan kata sambutan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 dan Arahan Presiden RI di Jakarta, Jumat (11/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat
Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan kata sambutan pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2019 dan Arahan Presiden RI di Jakarta, Jumat (11/1/2019). Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi virus corona (covid-19) berdampak pada pasar saham Indonesia. Dari awal tahun, indeks harga saham gabungan (IHSG) telah terkoreksi lebih dari 20 persen.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyebutkan penurunan tersebut menjadi yang paling dalam di sejarah Indonesia.

"Pasar saham ini sangat penting, karena secara year to date sudah turun 23,6 persen. Paling dalam di sejarah Indonesia," ujarnya dalam live streaming rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Selasa (7/4/2020).

Dalam menjaga pasar saham dalam negeri di tengah pandemi corona, OJK pun telah merilis beberapa kebijakan, salah satunya memperbolehkan emiten untuk melakukan pembelian saham kembali (buyback) tanpa rapat umum pemegang saham (RUPS).

Hal ini, apabila dalam kondisi normal tidak diperbolehkan. Wimboh menyebutkan tujuan relaksasi ini agar saham-saham terhindar dari tindakan spekulasi. "Semua emiten sudah ajukan ke pasar modal, ada 33 emiten yang melakukan buyback," ujarnya.

Selain itu, regulator juga melarang short selling, yaitu menjual saham di pagi hari, tetapi menjual di sore hari saat harga turun. OJK juga menerapkan auto rejection atau perdagangan saham disetop selama 30 menit jika terjadi penurunan di atas 5 persen, agar tidak semakin dalam koreksinya.

Wimboh pun menambahkan OJK masih memiliki beberapa instrumen tambahan yang disiapkan untuk meredam dampak virus corona terhadap pasar modal, seperti pengetatan auto rejection.

"Namun diharapkan tidak perlu dipakai. Saat ini pergerakan saham frekuensi hijau lebih sering daripada merahnya," kata Wimboh.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG OJK Virus Corona
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top