Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Asia Melemah Jelang Akhir Kuartal I/2020

Bursa Asia kompak melemah bersama bursa Eropa pada perdagangan siang ini, Senin (30/3/2020), saat investor mencermati perkembangan negatif virus corona (Covid-19) dan langkah-langkah stimulus yang memicu lonjakan aset berisiko pekan lalu.
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg
Investor mengamati papan perdagangan saham di sebuah kantor perusahaan sekuritas di Shanghai, China./ Qilai Shen - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia kompak melemah bersama bursa Eropa pada perdagangan siang ini, Senin (30/3/2020), saat investor mencermati perkembangan negatif virus corona (Covid-19) dan langkah-langkah stimulus yang memicu lonjakan aset berisiko pekan lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks MSCI Asia Pacific melemah 0,8 persen dan indeks Stoxx Europe 600 terkoreksi 0,6 persen pada pukul 8.13 pagi waktu London (pukul 14.13 WIB).

Pada saat yang sama, indeks futures S&P 500 naik 0,2 persen setelah bergerak fluktuatif dan Bloomberg Dollar Spot Index menguat.

Indeks futures S&P 500 tampak bergerak moderat meskipun pemberitaan dalam beberapa hari terakhir tidak memberikan dukungan pada sentimen pasar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memperpanjang imbauan bagi warga Amerika untuk menjaga jarak sosial satu sama lain (social distancing) hingga 30 April.

Trump sebelumnya bermaksud mendorong banyak warga Amerika untuk kembali beraktivitas normal pada liburan Minggu Paskah, 12 April mendatang.

Kendati demikian, korban akibat infeksi virus corona (Covid-19) semakin bertambah. Pemerintahan Trump memperkirakan puncak kematian akibat pandemi corona di AS akan tercapai dalam sekitar dua pekan.

Direktur National Institute for Allergy and Infectious Disease Anthony Fauci pada Minggu (29/3/2020) mengatakan jutaan warga Amerika dapat terinfeksi virus tersebut dan angka kematian akibat di AS dapat mencapai 200.000 korban jiwa.

"Pasar masih dalam wilayah yang belum dipetakan. Ketika melihat tahap-tahap pandemi ini, tampak peningkatan. Epicenter telah bergeser ke AS,” ujar Medha Samant, direktur investasi di Fidelity International.

Trump juga mengatakan pemerintahannya akan menyelesaikan pedoman penanganan sosial Covid-19 pada Selasa (31/3/2020). Selain itu, dia mengatakan bahwa AS akan segera berada dalam perjalanan menuju pemulihan.

“Pada tanggal 1 Juni, kita akan pulih dengan baik. Kami pikir pada 1 Juni banyak hal besar yang akan terjadi,” tutur Trump, seperti dilansir dari Bloomberg.

Sebagai langkah stimulus terkini oleh pemerintah negara-negara di dunia, People's Bank of China (PBOC) memangkas suku bunga 7-day repurchase rate menjadi 2,2 persen dari 2,4 persen. Jumlah pemangkasan ini merupakan yang terbesar sejak 2015.

Selain itu, PBOC juga menggelontorkan likuiditas hingga 50 miliar yuan (US$7,1 miliar) ke dalam sistem perbankan. Bank sentral China tersebut mengatakan langkah ini akan menjaga likuiditas yang cukup untuk membantu perekonomian riil.

Sementara itu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison berjanji akan mengucurkan A$130 miliar (US$80 miliar) selama enam bulan untuk melindungi pekerjaan di tengah dampak wabah virus corona terhadap perekonomian Negeri Kanguru.

Kepada awak media di Canberra pada Senin (30/3/2020), Morrison menjelaskan bahwa paket itu, bagian dari tahap ketiga stimulus fiskal, akan mencakup pembayaran subsidi upah oleh pemerintah sebesar A$1.500 setiap dua pekan per karyawan.

Di Singapura, Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) pada hari ini melonggarkan kebijakan moneternya dengan mengurangi slope kisaran nilai tukar mata uangnya menjadi nol yang dimulai dari level kurs efektif nominal dolar Singapura berlaku.

Langkah pengurangan slope tersebut sejalan dengan prediksi seluruh 16 ekonom dalam survei Bloomberg dan dilancarkan hanya beberapa hari setelah Wakil Perdana Menteri Heng Swee Keat meluncurkan paket dukungan fiskal kedua sebesar S$48 miliar (US$33,6 miliar).

"Asumsi bahwa kita dapat mengubah saklar dalam satu atau dua bulan dan semuanya akan baik-baik saja adalah pendapat yang salah," ujar David Kotok, chief investment officer di Cumberland Advisors Inc., kepada Bloomberg TV.

“Kita menunggu untuk melihat jadwal perawatan, pengujian, dan vaksin. Itu sangat penting bagi kita,” tambahnya.

Ketegangan menjelang akhir kuartal ini juga dapat menambah kegelisahan investor karena perusahaan-perusahaan finansial membatasi pinjaman agunan guna menopang neraca, sementara bank-bank Jepang menghadapi akhir tahun fiskal mereka.

Indeks MSCI untuk ekuitas global telah merosot sekitar 23 persen sejak awal tahun ini, menuju kuartal terburuknya sejak akhir 2008.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Rivki Maulana
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper