Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Asia Menguat, Pasar Sambut Lebih Banyak Stimulus

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (27/3/2020) karena investor berspekulasi akan ada lebih banyak langkah-langkah stimulus untuk memerangi pandemi virus corona.
Indeks Kospi/Bloomberg
Indeks Kospi/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (27/3/2020). Penguatan ini terjadi karena investor berspekulasi akan ada lebih banyak langkah stimulus untuk memerangi pandemi virus corona.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terpantau manguat 0,62 persen atau 3,46 poin ke level 558,88. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup menguat 4,3 persen dan 3,88 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 masing-masing menguat 0,26 persen dan 0,23 persen, sedangkan indeks Hang Seng menguat 0,1 persen.

Saat ini, sejumlah negara di Asia, beramai-ramai menyiapkan kebijakan untuk menopang perekonomian. Singapura sebelumnya mengumumkan paket bantuan untuk ketahanan masyarakat senilai 48 miliar dolar singapura (Rp545,53 triliun) di tengah krisis kesehatan masyarakat akibat wabah virus corona atau Covid-19.

Sebelumnya, India juga menggelontorkan stimulus senilai 1,7 triliun rupee (US$22,6 miliar) sebagai bagian dari upaya untuk meredam dampak ekonomi akibat penyebaran Covid-19.

Sementara itu, DPR Amerika Serikat diperkirakan akan mengeluarkan paket stimulus fiskal senilai US$2,2 triliun untuk membendung dampak ekonomi yang disebabkan virus corona. AS saat ini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbanyak, bahkan melampaui China, negara awal wabah pertama kali muncul akhir tahun lalu.

Sementara itu, negara-negara G-20 menjanjikan menyuntikkan stimulus fiskal lebih dari US$5 triliun ke dalam ekonomi global untuk menekan dampak hilangnya pekerjaan dan pendapatan akibat penyebaran Covid-19.

Kebangkitan kembali selera risiko baru-baru ini tampaknya akan diuji oleh penyebaran virus corona yang terus-menerus dan efek dari penutupan bisnis. Angka kematian global akibat pandemi ini melampaui 24.000, dengan lebih dari 536,000 orang telah terinfeksi.

"Pasar memperkirakan pelemahan ekonomi hanya berlangsung sementara,” ungkap Priya Misra, kepala analis global di TD Securities, seperti dikutip Bloomberg.

"Sebulan dari sekarang ketika kita menyadari kita masih terjebak dalam pandemi ini dan data ekonomi tidak terlihat lebih baik, saat itulah ada penurunan ekonomi lebih lanjut,” lanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper