Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Gurem Jadi Movers IHSG, Layak Beli?

Saham-saham berkapitalisasi kecil dinilai kurang menarik karena transaksi perdagangan yang sepi.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 18 Maret 2020  |  07:45 WIB
Pengunjung melintas di dekat papan elektornik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Pada perdagangan Selasa (17/3), IHSG tertekan di zona merah dan sempat mengalami trading halt menjelang akhir perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016. Bisnis - Abdurachman
Pengunjung melintas di dekat papan elektornik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Selasa (17/3/2020). Pada perdagangan Selasa (17/3), IHSG tertekan di zona merah dan sempat mengalami trading halt menjelang akhir perdagangan. Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,99 persen atau 233,91 poin ke level 4456,75. Ini merupakan level terendah IHSG sejak Januari 2016. Bisnis - Abdurachman

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika kinerja saham berkapitalisasi jumbo atau big caps tengah melorot dan turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tren koreksi. Di tengah pergerakan IHSG yang loyo, emiten berkapitalisasi gurem atau small caps bergerak naik. 

Berdasarkan  data Bursa Efek Indonesia, selama tahun berjalan ada empat yang menjadi movers IHSG, yaitu adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp14 triliun, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) Rp11 triliun dan PT Siantar Top Tbk. (STTP) Rp8 triliun.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan emiten-emiten yang menjadi movers IHSG cenderung tidak likuid diperdagangkan. Oleh sebab itu, tidak banyak investor yang melakukan penjualan.

“Emiten yang menjadi movers cenderung berkapitalisasi rendah dan cenderung tidak likuid sehingga tidak banyak yang dijual investor. Hal itu berbeda dengan emiten blue chip yang banyak dimiliki oleh investor,” katanya kepada Bisnis pada Selasa (17/3).

Dengan kondisi seperti itu Lanjar menyebut pergerakan saham small caps tak banyak membuat penurunan IHSG tidak bisa terbendung. Oleh sebab itu dia merekomendasikan beli bagi emiten blue chip seperti PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT Waskita Karya Tbk. (WSKT).

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan secara teknikal emiten-emiten yang menjadi movers IHSG menarik dari sisi pergerakan harga. Pasalnya, 10 emiten itu menunjukkan penguatan harga di tengah kondisi pasar yang turun.

“Beberapa saham tidak likuid jadi saya hanya bisa merekomendasikan PT Diamond Citra Propertindo Tbk. [DADA] dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. [DNET],” ungkapnya.

William menargetkan DADA bisa menguat ke level Rp300 sedangkan DNET bisa mencapai Rp3.500. Adapun pada penutupan perdagangan hari ini, DADA melemah 5,60 persen ke Rp236 sedangkan DNET tidak bergerak sama sekali di Rp3.180.

Sementara itu, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan emiten-emiten yang menjadi penggerak IHSG secara teknikal kurang menarik karena volume perdagangan kecil. Hal itu tidak menggambarkan psikologis perdagangan.

Hendriko menambahkan proses permintaan dan penawaran yang cenderung tipis membuat investor lebih sulit untuk masuk dan keluar di harga tertentu. “Maka itu saya tidak merekomendasikan untuk masuk di emiten-emiten tersebut,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG Indeks BEI rekomendasi saham
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top