Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Meski Menguat, Fundamental Harga Minyak Masih Rentan!

Berdasarkan data Bloomberg, pada Selasa (10/3/2020) hingga pukul 17.02 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak April 2020 di bursa Nymex bergerak menguat 7,1 persen menjadi US$33,34 per barel.
Anjungan lepas pantai./Bloomberg
Anjungan lepas pantai./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar minyak tampaknya belum dapat bernapas dengan lega. Penguatan harga yang terjadi pada perdagangan Selasa (10/3/2020) dinilai hanya akan berlaku sementara seiring dengan awan gelap masih membayangi fundamental minyak.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Selasa (10/3/2020) hingga pukul 17.02 WIB harga minyak jenis WTI untuk kontrak April 2020 di bursa Nymex bergerak menguat 7,1 persen menjadi US$33,34 per barel.

Sementara itu, harga minyak jenis Brent untuk kontrak Mei 2020 di bursa ICE naik 6,29 persen menjadi US$36,52 per barel. Sepanjang tahun berjalan 2020, harga minyak telah terkoreksi 44,3 persen.

Analis Pasar Oanda Jeffrey Halley mengatakan bahwa lonjakan harga minyak pada perdagangan kali ini tidak lebih karena koreksi dari aksi jual besar-besaran pada perdagangan sebelumnya, Senin (9/3/2020), dan harga sudah sentuh ke level yang cukup rendah.

“Padahal secara fundamental, prospek pasar minyak tidak ada banyak yang berubah seiring dengan pecahnya kongsi OPEC dan sekutunya pada pekan lalu,” ujar Jeffrey seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/3/2020).

Untuk diketahui, Arab Saudi bakal menaikkan produksi minyaknya 10 juta hingga 12 juta barel per hari sebagai upaya untuk menekan Rusia agar menyetujui langkah pemangkasan produksinya lebih dalam untuk menstabilkan harga.

Ketidaksetujuan Rusia terhadap pemangkasan produksi telah mengakhiri kerja sama antara Arab Saudi dan Negeri Beruang Putih itu yang telah menopang harga minyak sejak 2016. Akibatnya, minyak sempat anjlok hingga 30 persen lebih, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1991.

Terbaru, Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengindikasikan negaranya siap untuk perang harga dengan Arab Saudi. Dia mengatakan industri minyak negaranya memiliki ketahanan keuangan yang cukup untuk tetap kompetitif di setiap tingkat harga dan mempertahankan pangsa pasarnya.

Analis Monex Investindo Futures Andian mengatakan bahwa harga minyak perlu menguji level US$37,25 per barel, agar emas hitam itu dapat melanjutkan penguatannya.

Saat ini level resisten terdekat minyak berada di posisi US$34,65 per barel, dan kenaikan lebih lanjut berpeluang menopang minyak naik ke US$36,05 per barel, sebelum ke US$37,25 per barel.

“Namun, bila gagal menembus level resisten US$34,65 per barel, harga minyak berpotensi kembali bergerak turun menguji level support di US$31,15, penurunan lebih dalam dari level support tersebut berpeluang menekan harga minyak menguji level support selanjutnya di US$29,85 dan US$28,5 per barel,” ujar Andian dalam publikasi risetnya, Selasa (10/3/2020).

Meski Menguat, Fundamental Harga Minyak Masih Rentan!

FUNDAMENTAL BURUK
Seperti sudah jatuh tertimpa tangga, terlepas dari perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia, fundamental permintaan minyak pun juga menjadi katalis negatif harga untuk bergerak naik.

Apalagi, mengingat penyebaran virus corona telah melambatkan permintaan minyak hampir di seluruh dunia.

International Energy Agency (IEA) memprediksi permintaan minyak global pada tahun ini menurun untuk pertama kalinya sejak krisis keuangan 2009 seiring dengan semakin kuatnya sinyal perlambatan ekonomi global.

Dalam laporannya yang teranyar, IEA merevisi perkiraan permintaan minyak global dari sekitar 800.000 barel per hari, turun sebesar 90.000 barel per hari menjadi 710.000 barel per hari. Adapun, sinyal pesimistis dan pemangkasan revisi yang cukup dalam tersebut jarang sekali dilakukan oleh IEA.

IEA menjelaskan bahwa penyebaran virus corona yang semakin luas telah mengubah kondisi pasar. Kejadian yang semula hanya sebagai krisis kesehatan China kini berubah menjadi krisis kesehatan global.

Tindakan pengendalian wabah itu, telah mengurangi tingkat transportasi internasional dan domestik di seluruh dunia secara drastis.

“Pukulan terhadap permintaan telah jatuh mendalam, dengan penurunan di seluruh dunia sekitar 2,5 juta barel per hari selama kuartal pertama. Konsumsi di China, yang tahun lalu menyumbang 80 persen dari pertumbuhan permintaan global, turun 3,6 juta barel per hari pada bulan lalu,” tulis IEA seperti dikutip dalam laporannya, Selasa (10/3/2020).

Sementara itu, untuk negara-negara di luar OPEC seperti AS, Norwegia, dan Guyana pasokan terus bertambah dan IEA tidak mengubah estimasi untuk produksi non-OPEC, yang tumbuh tahun ini sebesar 2,1 juta barel per hari.

Pasokan yang berlebih dari dua sisi OPEC dan non OPEC diyakini tidak akan terserap dengan baik di pasar sehingga pasokan diyakini membludak dan harga semakin dalam tekanan.

Sejumlah analis pun telah merevisi target harga minyaknya. Tim analis Goldman Sachs seperti Damien Courvalin menilai harga minyak dapat menuju level US$20 per barel seiring dengan perang harga yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Rusia.

Tim analis Barclays juga merevisi prediksi harga minyak WTI tahun ini menjadi US$40 per barel dari sebelumnya US$54 per barel.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono justru memprediksi harga minyak mentah global dapat menyentuh level US$20 per barel, bahkan hingga US$10 per barel jika perang harga bertahan di waktu yang cukup lama, memperparah pasar yang juga sedang dibayangi katalis negatif akibat penyebaran virus corona.

“Minyak segera bergerak di kisaran US$20 per barel, bahkan US$10 per barel. Kita lihat saja perkembangannya,” ujar Wahyu kepada Bisnis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah
Editor : Hafiyyan

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper