Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ringkasan Perdagangan 11 Maret: Sentimen Virus Corona Masih Tekan IHSG dan Rupiah

Sentimen penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah hari ini.
Trader berjalan saat ticker menampilkan harga saham di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Indonesia./ Dimas Ardian - Bloomberg
Trader berjalan saat ticker menampilkan harga saham di dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Indonesia./ Dimas Ardian - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah hari ini.

Kekhawatiran dampak virus corona terhadap ekonomi Indonesia meningkat setelah seorang pasien terinfeksi di Indonesia meninggal dunia.

Berikut adalah ringkasan perdagangan di pasar saham, mata uang, dan komoditas yang dirangkum Bisnis.com, Rabu (11/3/2020):

 

Indonesia Catat Kematian Pertama Covid-19, IHSG Anjlok 1 Persen Lebih

Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,28 persen atau 66,72 poin di level 5.154,10 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (10/3/2020), IHSG mengakhiri pergerakannya di level 5.220,83 dengan kenaikan tajam 1,64 persen atau 84,02 poin.

Sebelum berbalik turun, indeks sempat memperpanjang penguatannya pada awal perdagangan dengan dibuka naik 0,21 persen atau 10,78 poin di posisi 5.231,61. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada kisaran 5.112,32-5.264,48.

Sebanyak 8 dari 9 sektor berakhir di wilayah negatif, dengan sektor properti mencatat pelemahan terbesar hingga 3,59 persen, disusul sektor infrastruktur yang melemah 3,19 persen. Di sisi lain, sektor barang konsumsi menguat 1,25 persen.

Dari 684 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 78 saham menguat, 350 saham melemah, dan 256 saham stagnan.

 

Tak Berdaya Melawan Sentimen Virus Corona, Rupiah Kembali Terkulai

Nilai tukar rupiah masih belum mampu melepaskan diri dari tekanan. Mata uang Garuda kembali masuk zona merah pada perdagangan Rabu (11/3/2020) seiring dengan sentimen penyebaran virus corona atau Covid-19 yang belum mereda.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp14.374 per dolar AS, terkoreksi 0,15 persen 23 poin. Penutupan kali ini menjadi kinerja terburuk kedua di antara mata uang Asia lainnya, di bawah dolar Taiwan yang melemah 0,25 persen.

Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama terpantau melemah 0,173 poin atau 0,18 persen ke level 96,241 pada pukul 15.53 WIB.

Sepanjang tahun berjalan, rupiah telah terkoreksi 3,5  persen, juga menjadi kinerja year to date terburuk kedua di antara mata uang Asia, tepat di bawah baht yang turun 5,5 persen.

 

Kontrak Berjangka Bursa AS Merah, Bursa Asia Melemah

Kontrak pada indeks S&P 500 turun lebih dari 1,5 persen setelah Presiden AS Donald Trump batal memberikan rincian langkah stimulus ekonomi utama untuk memerangi dampak dari virus corona (Covid-19).

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang terpantau melemah 0,77 persen atau 4,84 poin ke level 619,99 pada pukul 15.15 WIB. Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 ditutup melemah masing-masing 1,53 persen dan 2,27 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite melemah 0,94 persen di akhir perdagangan, sedangkan indeks CSI 300 ditutup turun 1,33 persen. Sementara itu, indeks Hang Seng ditutup melemah 0,63 persen.

 

Harga Emas Hari Ini, 11 Maret 2020

Harga emas Comex untuk kontrak April 2020 terpantau berbalik melemah 1,4 poin atau 0,08 persen ke level US$1.658,90 per troy ounce.

Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,173 poin atau 0,18 persen ke level 96,241 pada pukul 15.53 WIB.

Meski tergelincir dari penguatannya, harga emas tetap bergerak di kisaran level tertinggi dalam lebih dari 7 tahun karena para investor mencari tempat berlindung dalam aset investasi aman (safe haven).

“Kami percaya bahwa kita sedang melihat emas bergerak dua arah saat ini. Dan ini tidak biasa untuk emas ketika terdapat aksi jual yang tajam dalam pasar ekuitas,” tutur Suki Cooper, analis logam mulia di Standard Chartered, kepada Bloomberg TV, seperti dilansir dari Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper