Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Minyak Ambrol: Respons Rusia, Arab Saudi Bakal Genjot Produksi

Negara pengekspor minyak terbesar di dunia tersebut juga mulai memangkas harga jual minyak mentah sejak Sabtu (7/3/2020) ke level terendah dalam 30 tahun terakhir.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 09 Maret 2020  |  05:38 WIB
Kilang Minyak - Bloomberg
Kilang Minyak - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Arab Saudi berencana meningkatkan produksi minyak pada bulan depan hingga lebih dari 10 juta barel per hari setelah pecah kongsi dengan Rusia.

Negara pengekspor minyak terbesar di dunia tersebut juga mulai memangkas harga jual minyak mentah sejak Sabtu (7/3/2020) ke level terendah dalam 30 tahun terakhir. Aramco, perusahaan minyak milik Pemerintah Saudi Arabia, menawarkan diskon agar konsumen di Asia, Eropa, dan AS tetap menggunakan hasil produksi mereka.

Dikutip dari Bloomberg, Minggu (8/3/2020), salah satu sumber anonim mengatakan Arab Saudi telah memberi tahu para pelaku pasar mereka bisa terus menggenjot produksi jika diperlukan. Bahkan, tingkat produksi bisa dikerek ke level rekor baru, 12 juta barel per hari.

Langkah Arab saudi untuk meladeni perang tarif dari Rusia dikhawatirkan akan membuat kekacauan di pasar. Pasalnya, permintaan yang sedang turun akibat virus corona akan dihadapkan dengan tingkat produksi yang membengkak.

Pemicunya adalah pecahnya kongsi mereka dengan Rusia dalam OPEC+ yang telah berlangsung sejak 2016. Sebelumnya, pembatasan produksi disepakati oleh anggota OPEC+ untuk menjaga harga. Namun, kesepakatan itu berakhir pada akhir bulan ini.

Menteri Perminyakan Saudi Arabia Pangeran Abdulaziz bin Salman dalam pertemuan dengan Rusia telah menyampaikan ultimatum kepada Rusia untuk ikut dapat kesepakatan pemotongan produksi. Namun, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menolak ajakan itu. Menurutnya, setiap negara bebas untuk menggenjot produksinya mulai akhir bulan ini.

Investor sekaligus Pendiri Merchant Commodity Fund menilai hal ini akan menimbulkan gejolak dahsyat di pasar komoditas minyak mentah. Bahkan, menurutnya dampak dari hal ini akan sangat buruk bagi seluruh pelaku industri.

“Hal ini akan benar-benar buruk. OPEC+ akan menggenjot produksinya lebih besar, dan dunia tengah menghadapi penurunan permintaan besar-besaran, harga mungkin menyentul US$30 per barel,” katanya dikutip dari Bloomberg, Minggu (8/3/2020).

Roger Diwan, Konsultan Minyak IHS Markit Ltd. juga memprediksi hal serupa. Menurutnya, harga minyak dapat turun ke level US$20 per barel. Dengan kata lain, harga minyak dapat menyentuh titik terendahnya dalam 20 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak April 2020 turun 10,07 persen atau US$4,62 menjadi US$41,28 per barel pada penutupan perdagangan, Jumat (6/3/2020). WTI sempat tersungkur menyentuh level US$41,05 per arel atau terendah sejak April 2016.

Sementara itu, harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2020 terkoreksi 9,44 persen atau US$4,72 ke level US$45,27 per barel. Harga minyak Brent sempat menyentuh US$45,19 per barel atau terendah sejak Juli 2017.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top