Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Akhir Sesi I IHSG Terperosok ke Level 5.300, Bagaimana Nasib Big Caps?

Pada pukul 11:30 WIB atau sesi I perdagangan harian, IHSG terkoreksi 4 persen atau 223,73 poin ke level 5.311,96. Ini merupakan level terendah sejak 31 Januari 2017 di posisi 5.294,1.
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Pengunjung memfoto layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (6/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penurunan ke area 5.300 pada perdagangan Jumat (28/2/2020) sesi pertama.

Pada pukul 11:30 WIB atau sesi I perdagangan harian, IHSG terkoreksi 4 persen atau 223,73 poin ke level 5.311,96. Ini merupakan level terendah sejak 31 Januari 2017 di posisi 5.294,1.

Pelemahan indeks mulai berlanjut setelah pada pukul 08:55 WIB IHSG terkoreksi 1,8 persen atau 99,52 poin menjadi 5.436,17. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak di level 5.288,37 – 5.436,17.

Seluruh 9 sektor menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I. Penurunan terbesar dialami oleh aneka industri (-5,65 persen), perkebunan (-5,3 persen), aneka industri (-5,13 persen), dan konsumsi (-4,48 persen).

Saham-saham berkapitalisasi jumbo tercatat mengalami koreksi. BBCA turun -3,9 persen, BMRI -7,14 persen, BBRI -3,39 persen, ASII -6,72 persen, UNVR -5,59 persen, TLKM 2,59 persen, TPIA -5,11 persen, HMSP -3,47 persen, BBNI -4,59 persen, dan ICBP -4,5 persen.

Direktur Ciptadana Sekuritas Asia John Teja menyampaikan pelemahan bursa saham global turut menekan sentimen IHSG. Investor mengkhawatirkan perlambatan ekonomi global akibat penyebaran corona.

“Seluruh sektor pun terkena di IHSG. Bahkan sektor defensive seperti konsumsi juga ikut tertekan,” paparnya, dikutip dari Bloomberg, Jumat (28/2/2020).

Head of Research MNC Sekuritas Thendra Crisnanda menyampaikan dengan tidak adanya kasus corona dan ekonomi Indonesia yang bergantung ke pasar domestik, seharusnya pasar ekuitas dalam negeri kembali meningkat.

“Indeks harusnya mencapai dasarnya pada Februari dan Maret. Dampak virus di Indonesia tidak signifikan dan ekonomi domestik masih kuat,” imbuhnya.

Di sisi lain, saat ini adalah momentum tepat melakukan aksi beli karena valuasi saham yang rendah dan menyambut musim pembagian dividen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Editor : Rivki Maulana

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper