Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Saham Anjlok, Aset Safe Haven dan Obligasi Jadi Pelarian Investor

Kondisi pasar saham yang bergejolak membuat investor memilih aset safe haven sebagai pelarian utama.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 27 Februari 2020  |  18:23 WIB
Pelajar berada di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta. Bisnis - Dedi Gunawan
Pelajar berada di Main Hall Bursa Efek Indonesia Jakarta. Bisnis - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkulai tidak berdaya membuat investor melarikan asetnya ke instrumen yang memiliki risiko lebih rendah.

IHSG hari ini, Kamis (27/2/2020) ditutup melemah 2,69 persen ke level 5.535,69. Investor asing tercatat keluar dari pasar modal dalam negeri dengan nilai jual bersih Rp1,05 triliun.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Sekuritas Maximilianus Nico Demus kondisi pasar saham yang bergejolak membuat investor memilih aset safe haven sebagai pelarian utama.

Nico mengatakan pelaku mulai serius mengantisipasi perlambatan ekonomi global sehingga mereka makin yakin untuk melepas portofolio saham dan beralih ke instrumen yang risikonya lebih rendah.

Selain itu, pergeseran kepemilikan saham ke obligasi juga makin marak. Menurut Nico, tren ini tak hanya terjadi di pasar domestik, tetapi berlaku secara global. Dia mengacu pada imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang turun ke level terendah sepanjang masa, yakni 1,3 persen, 

“Tentu hal ini menjadi sebuah gambaran, bahwa pelaku pasar dan investor mulai meninggalkan pasar saham untuk sejenak karena satu-satunya yang bisa menjaga return investasi dalam portofolio adalah obligasi saat ini,” jelasnya kepada Bisnis, Kamis, (27/2/2020)

Dia memperkirakan dalam jangka waktu pendek hingga menengah, pasar obligasi masih akan positif karena menjadi pelarian para investor. Namun, kondisi ini belum tentu bertahan lama.

Di sisi lain, dia mengimbau para investor untuk tidak cemas masuk ke instrumen saham. Apalagi di tengah tekanan pasar,  hampir seluruh saham harganya terdiskon sehingga jadi kesempatan emas untuk berbelanja.

“Investasi selalu ada kesempatan dalam kesempitan, jadi [saya rekomendasikan] beli! Come on, kapan lagi BBNI terkoreksi di atas 4 persen? Selama harga masih di atas 4000, masuk!,” tuturnya.

Meski kapitalisasi marketnya tengah turun terus, Nico merekomendasikan untuk jangan takut berburu beberapa saham big caps. Beberapa pilihan untuk dikoleksi saat ini antara lain BBNI, BMRI, BBRI, dan UNVR.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top