Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

RD Campuran Perlu Strategi Investasi yang Tepat

Meskipun saat ini reksa dana campuran tengah terkoreksi cukup besar, prospek instrumen investasi ini diperkirakan masih cukup baik ke depannya.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  16:32 WIB
Investor mendapat penjelasan produk reksa dana yang digelar dalam pesta reksa dana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Sabtu (27/01/2016). - Bisnis.com
Investor mendapat penjelasan produk reksa dana yang digelar dalam pesta reksa dana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Sabtu (27/01/2016). - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun tengah mengalami kontraksi, reksa dana campuran dinilai masih cukup prospektif sebagai instrumen investasi yang dapat dijadikan pilihan.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebutkan meskipun saat ini reksa dana campuran tengah terkoreksi cukup besar, prospek instrumen investasi ini masih cukup baik untuk ke depannya.

Menurutnya, turunnya performa reksa dana campuran lebih disebabkan oleh racikan portofolio yang kurang sesuai dengan kondisi terkini.

Kinerja instrumen investasi ini akan sulit naik apabila investor mengalokasikan porsi yang lebih besar di pasar saham, karena banyaknya sentimen negatif dari luar yang menurunkan kinerja pasar saham baik secara global maupun di Indonesia.

“Memang tantangannya lebih banyak dari luar karena reksa dana campuran ini portofolionya akan sangat bervariasi dibandingkan instrumen investasi lainnya,” ujarnya saat dihubungi pada Kamis (13/2/2020).

Hans menyarankan kepada investor untuk masuk melalui pasar obligasi, karena dinilai positif dan potensial mendatangkan keuntungan yang signifikan. Selain itu, tren positif obligasi Indonesia juga menimbulkan keyakinan untuk para investor.

“Sebaiknya portofolio pada pasar obligasi diperbanyak, sekitar 50 persen dari keseluruhan portofolio. Untuk pasar saham saat ini cukup 10 persen hingga 20 persen dan sisanya dapat diparkirkan pada pasar uang,” jelasnya.

Meski demikian, racikan tersebut dapat diubah apabila pasar saham mulai menunjukkan tren perbaikan. Hal tersebut juga diperkirakan Hans dapat terjadi karena sejumlah kebijakan yang akan dilakukan pemerintah dan upaya perbaikan industri keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan data Infovesta Utama, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana campuran turun paling dalam di antara reksa dana lainnya pada Januari 2020, dengan koreksi sebesar 9,3 persen. Jumlah unit penyertaan (UP) juga berkurang 18,58 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top