Ini yang Membuat Sritex (SRIL) Tahan terhadap Fluktuasi Kurs

Lebih dari 50 persen penjualan Sritex berasal dari pasar ekspor sehingga perseroan bisa menerapkan lindung nilai atau hedging secara alami.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 13 Februari 2020  |  17:36 WIB
Ini yang Membuat Sritex (SRIL) Tahan terhadap Fluktuasi Kurs
CEO PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) Iwan Setiawan Lukminto memberikan sambutan, seusai meraih penghargaan Best CEO 2018 dalam acara Bisnis Indonesia Award 2018 bertema Excellent Growth, di Jakarta, Senin (7/5/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten tekstil PT Sri Isman Rezeki Tbk. (SRIL) atau Sritex menyatakan kinerja perseroan tidak akan terdampak dari tren penguatan nilai tukar rupiah.

Corporate Communications Sritex, Joy Citradewi mengatakan fluktuasi kurs tidak berdampak signifikan terhadap perseroan karena perseroan sudah menerapkan lindung nilai atau hedging secara alami. Dengan kata lain, sebagian pendapatan maupun pengeluaran perseroan dilakukan dalam denominasi mata uang yang sama.

Joy menuturkan, perseroan meraup pendapatan dalam denominasi valuta asing karena porsi penjualan ekspor mencapai 60 persen. “Untuk tahun ini diusahakan masih 60 persen ekspor. Natural hedging membuat kurs bukan faktor besar (untuk penjualan ekspor),” ujar Joy kepada Bisnis.com, Kamis (13/2/2020).

Di sisi lain, emiten bersandi saham SRIL itu mengaku tidak terimbas pembatasan akses impor bahan baku dari China. Pasalnya, sumber bahan baku yang didatangkan dari luar negeri beragam, tidak hanya dari China.

Untuk diketahui, wabah virus corona atau Covid-19 di Negeri Panda telah menimbulkan dampak ke berbagai sektor, mulai dari pembatasan penerbangan hingga hambatan pengiriman barang ke luar China.

Secara umum, SRIL juga mengalokasikan belanja modal di kisaran $40 juta s.d US$45 juta. Alokasi tersebut berasal dari kas internal dan akan digunakan untuk pemeliharaan mesin. Di samping itu, SRIL juga membidik pertumbuhan di kisaran 7 persen hingga 9 persen pada tahun ini.

Dalam preiode Januari-September 2019, SRIL membukukan penjualan senilai US$895,08 juta atau tumbuh 17,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, laba bersih tumbuh tipis 2,45 persen menjadi US$72,22 juta.

Berdasarkan data Bloomberg, emiten yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp4,29 triliun ini ditutup pada zona merah dengan penurunan sebesar 4 poin atau 1,87 persen menjadi Rp210 pada Kamis (13/2/2020). Adapun pada pembukaannya, harga saham SRIL sempat rebound di level Rp218 setelah berada pada level Rp214 pada hari sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Rivki Maulana
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top