Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kekhawatiran Virus Corona Belum Reda, Bursa AS Cetak Rekor

Bursa saham Amerika Serikat memulai pekan ini dengan positif karena investor mengabaikan potensi tekanan ekonomi dari penyebaran coronavirus di tengah musim laporan pendapatan emiten.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  05:39 WIB
Seorang trader bekerja di lantai New York Stock Exchange tak lama setelah bel pembukaan di New York, AS, 24 Januari 2020. - REUTERS / Lucas Jackson
Seorang trader bekerja di lantai New York Stock Exchange tak lama setelah bel pembukaan di New York, AS, 24 Januari 2020. - REUTERS / Lucas Jackson

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat memulai pekan ini dengan positif karena investor mengabaikan potensi tekanan ekonomi dari penyebaran coronavirus di tengah musim laporan pendapatan emiten.

Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,73 persen ke level 3.352,09, rekor tertiggi barunya. Sementara itu, indeks Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat masing-masing 0,6 persen dan 1,13 persen.

Sebagian besar sektor menguat, namun sektor energi melemah karena minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun di bawah US$ 50 per barel.

Minyak mentah WTI turun 1,5 persen ke level US$49,58 per barel, level terendah dalam lebih dari 13 bulan terakhir sekaligus pada penurunan terbesar dalam sepekan.

Penguatan di bursa Wall Street ini terjadi di tengah investor yang memantau dimulainya kembali aktivitas pabrik-pabrik di China dan kemungkinan kekacauan yang mungkin terjadi setelah beberapa ratus ribu orang mulai kembali bekerja di perusahaan-perusahaan seperti pemasok Apple Inc., Foxconn.

Sementara itu, General Motors Co akan memulai kembali produksi di China mulai 15 Februari mendatang.

Dengan meningkatnya kasus coronavirus di luar China dan berbagai perusahaan menarik diri dari pertemuan internasional, investor berusaha mencari tahu apakah tingkat penularan virus ini telah mencapai masa puncaknya.

Sementara itu, otoritas moneter di negara-negara emerging markets telah melangkah untuk menopang sistem keuangan. Bank Sentrak China bergerak untuk menjaga likuiditas pada hari Senin melalui reverse-repurchase agreements.

"Meskipun penyebaran coronavirus membingungkan, fokus global pada penyakit ini kemungkinan akan menghasilkan solusi untuk membendung penyebarannya tidak lama lagi," John Stoltzfus, analis investasi di Oppenheimer Asset Management, seperti dikutip Bloomberg.

"Data ekonomi yang dirilis pekan lalu menggarisbawahi kekuatan dan ketahanan di pasar tenaga kerja AS dan menunjukkan keberlanjutan ekspansi ekonomi AS," lanjutnya.         

Investor juga menantikan rilis laporan keuangan sejumlah emiten pekan ini, di antaranya Alibaba Group Holding Ltd., Credit Suisse Group AG, dan Nestle SA.

Sementara itu di bursa Eropa, indeks Stoxx Europe 600 ditutup menguat tipis 0,07 persen atau 0,28 poin ke level 424,64.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as
Editor : M. Taufikul Basari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top