Mampukah IHSG Kembali ke Atas Level 6.000?

Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Lanjar Nafi mengatakan bahwa secara teknikal indeks masih akan bergerak mencoba tutup di atas level psikologis 6.000 dengan support-resistance 5.950-6.050.
M. Taufikul Basari
M. Taufikul Basari - Bisnis.com 11 Februari 2020  |  07:32 WIB
Mampukah IHSG Kembali ke Atas Level 6.000?
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (29/1/2020). JIBI/Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada hari ini, Selasa (11/2/2020), bakal menguji level psikologis 6.000.

Kemungkinan indeks menghijau didukung oleh pernyataan tertulis yang diterbitkan Moody’s pada Senin (10/2), bahwa mereka kembali menyematkan peringkat utang pemerintah Indonesia di level Baa2 dengan Outlook Stabil.

Analis PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk Lanjar Nafi mengatakan bahwa secara teknikal indeks masih akan bergerak mencoba tutup di atas level psikologis 6.000 dengan support-resistance 5.950-6.050.

Saham-saham yang cukup menarik secara teknikal di antaranya; HOKI, MAIN, TPIA, BBRI, TLKM, JSMR, ERAA.

Menurut Lanjar, pergerakan IHSG secara teknikal mengkonfirmasi false break level psikologis 6.000 dengan potensi bergerak melemah jangka pendek menguji support 5.950 meskipun dari indikator semua cukup positif dari MACD yang bergerak divergent positif, RSI yang memiliki momentum cukup rendah dan Stochastic yang membuka peluang penguatan yang masih melebar.

Pada perdagangan kemarin, IHSG (-0,79 persen) mengawali pekan dengan melemah 47.52 poin ke level 5.952,08 mengiringi pelemahan mayoritas indeks acuan di Asia.

Bursa Asia ditutup mayoritas melemah kecuali CSI300 (+0,41 persen) yang menguat mendekati setengah persen didorong mulainya kembali pabrik Tiongkok dengan ratusan ribu orang mulai kembali bekerja dan PBOC melakukan perjanjian buyback guna menjaga likuiditas keuangan.

Bursa saham Asia bersiap untuk dibuka lebih tinggi pada perdagangan Selasa (11/2/2020) setelah saham AS mencapai rekor tertinggi karena investor mengabaikan potensi dampak ekonomi dari penyebaran virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, kontrak berjangka untuk bursa saham di Australia dan Hong Kong menunjukkan penguatan. Sementara itu, pasar saham Jepang tutup untuk liburan hari ini.

Pada perdagangan Senin (10/2), indeks S&P 500 ditutup menguat 0,73 persen ke level 3.352,09, rekor tertinggi barunya. Sementara itu, indeks Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat masing-masing 0,6 persen dan 1,13 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top