IHSG Ambrol ke Level 5.966, Ini Kata Analis

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (31/1/2020), di tengah kekhawatiran seputar wabah virus corona (coronavirus) di China.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 31 Januari 2020  |  12:07 WIB
IHSG Ambrol ke Level 5.966, Ini Kata Analis
Karyawan beraktivitas di galeri PT Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (28/1/2020). Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melorot lebih dari 1 persen pada akhir sesi I perdagangan hari ini, Jumat (31/1/2020), di tengah kekhawatiran seputar wabah virus corona (coronavirus) di China.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG parkir di level 5.966,87 dengan pelemahan 1,50 persen atau 90,73 poin pada akhir sesi I dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis (30/1/2020), IHSG menutup pergerakannya di level 6.057,60 juga dengan koreksi cukup tajam sebesar 0,91 persen atau 55,45 poin.

Sebelum terguling dari level 6.000, indeks sempat rebound ke zona hijau dengan dibuka naik 0,31 persen atau 18,86 poin di posisi 6.076,46 pada Jumat (31/1) pagi. Sepanjang perdagangan sesi I, IHSG bergerak di level 5.957,11 – 6.078,93.

Seluruh sembilan sektor menetap di wilayah negatif pada akhir sesi I, dipimpin aneka industri (-2,13 persen), finansial (-1,83 persen), dan infrastruktur (-1,67 persen).

Sebanyak 79 saham menguat, 281 saham melemah, dan 316 saham stagnan dari 676 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) yang masing-masing turun 2,30 persen dan 2,40 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada akhir sesi I.

Menurut Analis Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya, seluruh sektor melemah seiring dengan bertahannya kekhawatiran tentang wabah virus corona baru yang telah menjalar ke sejumlah negara lain.

“[Namun] aksi jual pada ekuitas Indonesia kemungkinan akan sementara dan memberi peluang beli,” tambah Hariyanto.

Berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg, total orang terinfeksi mencapai 8.152 pasien, sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 213 orang per Jumat (31/1/2020) pagi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan keadaan darurat global terkait penyebaran virus corona mematikan dari China menyusul laporan kenaikan angka kematian yang drastis.

Senada dengan Hariyanto, CEO PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Lilis Setiadi berpendapat sentimen atas wabah virus tersebut akan berumur pendek.  

“Kami pikir ini akan menjadi volatilitas jangka pendek dan dampaknya akan agak terkendali pada kuartal pertama. Dengan kabar pemulihan yang berkelanjutan, terutama pada semester kedua, akan memberi peluang bagi beberapa klien untuk berinvestasi lebih banyak ketika pasar mengalami sedikit koreksi yang sehat,” tutur Lilis.

“Begitu kabut dari wabah ini terselesaikan, perhatian [pasar] dapat kembali tertuju pada reformasi-reformasi yang telah didorong Presiden Joko Widodo,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg.

Seiring dengan pergerakan IHSG, indeks Bisnis-27 merosot 1,73 persen atau 9,5 poin ke level 538,81, sedangkan indeks saham syariah Jakarta Islamic Index turun tajam 1,7 persen atau 1,17 poin ke posisi 646,66 pada akhir sesi I.

Di pasar spot, nilai tukar rupiah menguat tipis 2 poin atau 0,01 persen ke level Rp13.655 per dolar AS pukul 11.01 WIB, setelah berakhir terdepresiasi 0,17 persen atau 23 poin di posisi 13.657 pada Kamis (30/1).

Indeks saham lain di Asia terpantau bergerak variatif, dengan Nikkei 225 dan Topix Jepang naik 0,93 persen dan 0,66 persen masing-masing siang ini.

Adapun indeks Kospi Korea Selatan turun tipis 0,08 persen dan indeks Straits Times Singapura terkoreksi 0,18 persen.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, virus corona

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top