Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Investor Masih Buru Aset Safe Haven

Kepala Strategi Valuta Asing Scotia Capital Shaun Osborne mengatakan bahwa pasar khawatir penyebaran virus corona yang terus meluas dan korban jiwa yang terus bertambah dapat menjadi epidemi seperti virus SARS saat itu sehingga meredam ekonomi global sampai batas tertentu.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  17:57 WIB
Emas perhiasan. - Reuters
Emas perhiasan. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Investor kembali memburu aset investasi aman pada perdagangan Selasa (28/1/2020) seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari virus corona yang semakin banyak memakan korban.

Kepala Strategi Valuta Asing Scotia Capital Shaun Osborne mengatakan bahwa pasar khawatir penyebaran virus corona yang terus meluas dan korban jiwa yang terus bertambah dapat menjadi epidemi seperti virus SARS saat itu sehingga meredam ekonomi global sampai batas tertentu.

“Pasar masih bereaksi terhadap sentimen penyebaran virus corona dan aset safe haven terus menunjukkan kinerja terbaiknya,” ujar Shaun seperti dikutip dari Reuters, Selasa (28/1/2020).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (28/1/2020) hingga pukul 17.32 WIB, harga emas berjangka untuk kontrak April 2020 di bursa Comex berada di level US$1.584 per troy ounce, menguat tipis 0,04%, sedangkan harga emas di pasar spot melemah 0,13% menjadi US$1.580 per troy ounce.

Sementara itu, aset investasi aman lainnya, yaitu yen menguat 0,07% menjadi 108,82 yen per dollar AS.

Ekonom National Australia Bank John Sharma mengatakan bahwa emas dapat kembali menyentuh level psikologis kuat di US$1.600 per troy ounce akibat sentimen tersebut.

“Namun, mungkin akan lebih banyak bergerak di sekitar level US$1.570 per troy ounce hingga US$1.590 per troy ounce karena kita perlu mendapatkan informasi lebih lanjut, ada banyak variabel yang tidak diketahui di sekitar virus,” ujar John seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (28/1/2020).

Adapun, penyebaran virus corona semakin parah. Hingga Selasa (28/1/2020), jumlah masyarakat China yang terjangkit virus tersebut melonjak tajam menjadi 4.515 dengan total korban jiwa mencapai 106 orang. Kasus infeksi itu pun telah dilaporkan juga berada di beberapa negara Asia, Australia, AS, Prancis, dan Kanada.

Selain itu, pasar keuangan di seluruh China akan tetap tutup sampai pekan depan setelah Pemerintah China memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek dalam upaya untuk mengurangi perjalanan dan membatasi penyebaran virus.

Pihak berwenang juga telah membatasi perjalanan dari dan menuju kota Wuhan, tempat virus pertama kali tersebar.

Di sisi lain, analis Komoditas Anand Rathi, Jigar Trivedi mengatakan bahwa aset investasi aman berpotensi berbalik melemah akibat kecenderungan aksi ambil untung setelah harga menyentuh level tinggi.

“Emas telah positif untuk beberapa sesi terakhir mungkin akan ada konsolidasi, tetapi ketidakpastian dan kekhawatiran pertumbuhan global karena virus korona masih ada di pasar,” papar Jigar.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas virus corona
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top