Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Salip Jepang Jadi Importir LNG Terbesar

Analis Institute of Energy Economics Jepang (IEEJ) Hiroshi Hashimoto mengatakan bahwa naiknya peringkat importir China disebabkan oleh tren jangka panjang dari melemahnya permintaan LNG di Jepang dan mulai banyaknya pembangkit listrik tenaga nuklir.
Kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) terlihat menuju pembangkit listrik di Futtsu, Tokyo, Jepang, Senin (13/11/2017)./Reuters-Issei Kato
Kapal tanker Liquefied Natural Gas (LNG) terlihat menuju pembangkit listrik di Futtsu, Tokyo, Jepang, Senin (13/11/2017)./Reuters-Issei Kato

Bisnis.com, JAKARTA - China berhasil menyalip Jepang sebagai importir gas terbesar di dunia untuk dua bulan berturut-turut seiring dengan impor LNG China periode Desember berhasil mencapai rekor volume bulanan tertinggi.

Berdasarkan data pelacakan kapal Refinitiv Eikon terbaru, China telah mengimpor 7,198 juta ton LNG pada Desember, naik hampir 16 persen dari November, sedangkan Jepang hanya mengirim 6,574 juta ton untuk periode Desember, naik hampir 7 persen dari bulan sebelumnya.

Analis Institute of Energy Economics Jepang (IEEJ) Hiroshi Hashimoto mengatakan bahwa naiknya peringkat importir China disebabkan oleh tren jangka panjang dari melemahnya permintaan LNG di Jepang dan mulai banyaknya pembangkit listrik tenaga nuklir.

Sebagai informasi, permintaan energi Jepang telah jatuh karena populasi yang menua dan persaingan dari sumber lain, seperti tenaga nuklir.

“Dorongan musiman juga menjadi alasan naiknya impor China, tetapi kemungkinan permintaan ini tidak akan bertahan lama setelah musim dingin usai,” ujar Hiroshi seperti dikutip dari Reuters.

Di sisi lain, kendati secara volume tahunan importir LNG terbesar masih dipimpin oleh Jepang, Analis Wood Mackenzie Miaoru Huang memperkirakan China segera menyusul Negeri Sakura tersebut dan menjadi importir terbesar pada tahun ini.

Selain itu, permintaan gas China meningkat juga ditopang oleh dorongan pemerintah untuk mengalihkan penggunaan energi perumahan dan industri dari tenaga batu bara ke energi yang lebih ramah lingkungan, yaitu gas alam.

Akibat hal tersebut, perusahaan keuangan Bernstein dalam riset terbarunya memproyeksi permintaan gas China dapat tumbuh 10 persen atau sekitar 30 miliar meter kubik pada 2020 dan sentimen tersebut pun siap untuk menopang harga untuk bergerak lebih baik pada tahun ini.

Bernstein mengatakan bahwa permintaan gas akan terus naik seiring dengan upaya pasar China untuk menurunkan kadar polusi dari penggunaan energi tersebut.

“Akibatnya, dengan pertumbuhan 2020 yang terlihat naik 10 persen, perusahaan distributor gas yang terdaftar di bursa mungkin akan membukukan pertumbuhan sekitar 15 persen,” tulis Bernstein dalam risetnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (7/1/2020).

Adapun, pertumbuhan permintaan gas China pada 2019 meleset daripada perkiraan pasar. Sebelumnya, pasar mengestimasikan pertumbuhan permintaan gas dalam negeri dapat tumbuh sebesar 12 persen, tetapi nyatanya hanya dapat tumbuh sekitar 9 persen pada 2019.

Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan industri yang lebih lambat, cuaca musim dingin yang lebih ringan, dan kemacetan infrastruktur di sekitar terminal LNG. Hal itu pun juga membuat harga gas alam memiliki kinerja cukup buruk pada 2019 dan melemah sebesar 23,74 persen.

Di sisi lain, Bernstein memperkirakan pertumbuhan permintaan pada tahun ini akan diseimbangi dengan pasokan gas yang mencukupi. Pasokan gas China akan dibantu oleh pasokan yang melimpah dari sumber-sumber domestik dan LNG internasional, karena harga spot berada pada rekor terendah sehingga memicu pembelian lebih banyak.

Selain itu, pasokan juga akan dibantu oleh dimulainya pipa Power of Siberia, yang akan memasok pasar China timur laut yang memiliki minat gas cukup tinggi.

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (7/1/2020 hingga pukul 16.52 WIB, harga gas alam untuk kontrak Februari 2020 di bursa Nymex bergerak melemah 0,56 persen menjadi US$2,12 per MMbtu.

Sementara itu, harga LNG untuk kontrak Februari 2020 di bursa Nymex pada penutupan perdagangan Senin (6/1/2020) berada di level US$5,32 per MMbtu, melemah 1,3 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Finna U. Ulfah

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper