Secara Historis, IHSG Bisa Menyentuh 6.222 pada Akhir 2019

Bahan TCW Investment Management optimistis IHSG akan rebound dan menyentuh level 6.222 pada Desember, setelah terpukul selama November.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 04 Desember 2019  |  05:42 WIB
Secara Historis, IHSG Bisa Menyentuh 6.222 pada Akhir 2019
Calon penumpang menunggu bus Transjkarta dengan latar belakang layar pergerakan saham PT Bursa Efek Indonesia di jalan Jenderal Sudirman Jakarta, Rabu (27/11/2019). - ANTARA/Wahyu Putro

Bisnis.com, JAKARTA — Bahana TCW Investment Management optimistis IHSG akan rebound pada Desember setelah terpukul selama November.

Adapun, di sepanjang November, indeks harga saham gabungan (IHSG) terkoreksi 3,15% ke level 6.011. Bahkan, indeks sempat tergelincir ke bawah 6.000 sebesar 5.953 pada akhir bulan lalu. Sementara itu, selama sepekan IHSG terdepresiasi 1,45%.

Budi Hikmat, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management (BTIM) menyampaikan bahwa selama 12 tahun terakhir IHSG belum pernah parkir di zona merah pada akhir tahun.

Pasalnya, indeks diperkirakan akan mendapat berkah dari aksi window dressing yang sering dilakukan emiten dan institusi keuangan supaya kinerja saham tampil menawan pada penutupan tahun.

“Berdasarkan historikal selama 12 tahun terakhir, IHSG rata-rata tumbuh sekitar 3,5% pada Desember. Jika angka rata-rata ini dijadikan acuan untuk memproyeksikan kenaikan Desember 2019, maka IHSG berpeluang ditutup pada posisi 6.222,” ungkap Budi Hikmat dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Senin (2/12).

Kendati ada potensi upside, Budi mengingatkan bahwa sentimen penggerak IHSG masih ditentukan dari ELVIS yang merupakan akronim dari earning, liquidity, interest rate, valuation dan sentiment. Untuk kondisi saat ini, yang paling relevan kini urutannya menjadi SILVE mengingat Indonesia belum memiliki mesin ekspor penopang daya beli pengganti komoditas primer yang harganya sedang turun.

Selain faktor internal, pelemahan IHSG pada November juga dipicu faktor eksternal terutama memanasnya hubungan Amerika Serikat dan China seusai Presiden AS Donald Trump menandatangani Undang-undang (UU) penegakan demokrasi dan hak asasi manusia di Hong Kong.

Aksi AS yang dianggap campur tangan urusan dalam negeri membuat pihak China ‘meradang’ dan seperti dikutip Reuters, Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing akan melakukan ‘serangan balasan’.

Hal ini membuat khawatir para investor terhadap memburuknya prospek damai dagang oleh dua negara perekonomian terbesar dunia ini.

Akibatnya, investor memilih tak berinvestasi di portofolio berisiko di negara berkembang. Selama pekan lalu, investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 2,68 triliun di Bursa Efek Indonesia.

 

 

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, rekomendasi saham

Editor : Rahayuningsih
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top