Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Obligasi Diwarnai Ketidakpastian, Investor Disarankan Wait and See

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai sudah saatnya mengurangi eksposur obligasi jangka panjang, dan mulai memperbesar porsi obligasi jangka pendek untuk mengurangi tingkat volatilitas di pasar.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 11 November 2019  |  08:51 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Ketidakpastian dari masalah perang dagang antara China-Amerika Serikat kembali naik di tengah optimisme tentang kesepakatan parsial di antara kedua negara.

Dikutip dari hasil risetnya, Senin (11/11/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan kondisi pasar saat inu sebenarnya cenderung stagnan meskipun masih ada potensi kenaikan. Menurutnya, masalah perang dagang yang masih tak pasti membuat investor lebih baik melakukan wait and see.

Pasalnya, kesepakatan parsial antara China dan Amerika Serikat kembali mundur menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang tak mau mengabulkan penurunan tarif secara menyeluruh seperti yang diharapkan China. Pihak Amerika Serikat sebelumnya mengatakan perjanjian perdagangan fase satu akan membuka perjanjian mengenai tarif dan konsesi.

Sayangnya, hal itu dimentahkan oleh Trump yang membuat iklim perang dagang kembali muram. Investor, katanya, perlu juga menanti pernyataan Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat Jerome Powell guna mengetahui arah kebijakan selanjutnya pascapemangkasan suku bunga acuan.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see sampai pergerakan harga surat utang negara (SUN) menyentuh 55 basis poin.

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini, pergerakan pasar yang melebihi 55 bps, akan menjadi arah selanjutnya," ujarnya.

Sentimen lain yang meningkatkan ketidakpastian yakni rilis data perdagangan RI untuk periode Oktober 2019. Menurutnya, rilis data pertumbuhan ekonomi sebelumnya cenderung masih mengecewakan pasar dan dia memproyeksikan bahwa hal yang sama akan turut tercermin pada rilis data perdagangan.

Lesunya ekonomi juga terlihat pada kondisi di Inggris dan Jerman. Terkait Inggris, lembaga pemeringkat utang Moody's menurunkan outlook Inggris menjadi negatif meskipun belum ada penurunan rating. Moody's menilai Pemerintah Inggris tidak memiliki komitmen terhadap displin fiskal dan tidak mampu menetapkan kebijakan soal Brexit.

Inggris pun akan mengeluarkan data pertumbuhan ekonomi yang secara tahunan diperkirakan akan mengalami penurunan dari sebelumnya 1,3% menjadi 1,1%. Selain Inggris, Jerman pun diproyeksi mengeluarkan hasil yang sama.

Dia menilai Jerman yang pada 14 November akan mengeluarkan data pertumbuhan ekonomi bakal dinanti karena sebelumnya sudah terkontraksi secara kuartalan yaitu berada di -0,1%, meskipun secara tahunan masih berada di kisaran 0,4%.

Atas proyeksi tersebut, dia menyarankan agar investor berhati-hati dan mulai memperbesar porsi obligasi jangka pendek untuk meredam gejolak.

"Oleh sebab itu sudah saatnya mengurangi eksposur obligasi jangka panjang, dan mulai memperbesar porsi obligasi jangka pendek untuk mengurangi tingkat volatilitas di pasar," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top