Data Pertumbuhan Ekonomi Dorong Rupiah Menguat ke Level Rp13.969

Rupiah berhasil menguat fantastis pada perdagangan Selasa (5/11/2019) ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2019 yang berhasil dirilis positif.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 05 November 2019  |  19:13 WIB
Data Pertumbuhan Ekonomi Dorong Rupiah Menguat ke Level Rp13.969
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah berhasil menguat fantastis pada perdagangan Selasa (5/11/2019) ditopang oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III/2019 yang berhasil dirilis positif.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berhasil ditutup di level Rp13.969 per dolar AS, menguat 0,322% atau 45 poin. Sepanjang tahun berjalan 2019, rupiah masih bergerak di zona hijau dengan menguat 3,014%.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa penguatan rupiah seiring dengan pertumbuhan ekonomi dalam negeri kuartal III/2019 dirilis tumbuh 5,02% secara year-on-year sesuai dengan ekspektasi para analis.

Sementara itu, secara kuartalan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 3,06% sehingga secara kumulatif ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,04%.

“Pelaku pasar mengapresiasi fakta bahwa perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh di atas 5%. Pasalnya, sebelum angka pertumbuhan ekonomi dirilis, ada kekhawatiran yang besar bahwa perekonomian Indonesia tak akan mampu tumbuh mencapai 5%,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (5/11/2019).

Dia mengatakan bahwa sebelumnya pasar khawatir kondisi perekonomian global yang masih sangat diliputi dengan ketidakpastian seperti perang dagang AS-China, Brexit, dan tensi geopolitik di beberapa kawasan dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dalam negeri secara signifikan.

Sementara itu, analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa penguatan rupiah juga berhasil ditopang sentimen positif dari faktor eskternal.

AS dan China yang semakin dekat dengan penandatangan kesepakatan perdagangan tahap pertama berhasil meningkatkan minat mengumpulkan aset berisiko sehingga rupiah berhasil terapresiasi.

Adapun, penandatangan kesepakatan tahap pertama yang diharapkan dapat dilakukan pada akhir bulan ini telah dinanti lama oleh pasar karena sengketa perdagangan yang terjadi sejak tahun lalu telah memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi global.

“Sentimen Brexit juga telah memudar dan pasar merespon positif dari mundurnya batas waktu Brexit menjadi 31 Januari 2020,” ujar Yudi kepada Bisnis, Selasa (5/11/2019).

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa pergerakan rupiah harus mewaspadai aksi ambil untung yang cenderung dilakukan oleh pasar ketika harga telah menyentuh level tertinggi.

Yudi memprediksi pada perdagangan Rabu (6/11/2019) rupiah masih melanjutkan penguatan di kisaran Rp13.904 per dolar AS hingga Rp14.040 per dolar AS masih dengan sentimen yang sama.

Sementara itu, Ibrahim memprediksi rupiah bergerak menguat terbatas di kisaran Rp13.950 per dolar AS hingga Rp14.010 per dolar AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Rupiah, Pertumbuhan Ekonomi

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top