Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Paladium Berupaya Cetak Rekor Baru, Sudah Lampaui US$1.800

Sepanjang tahun berjalan 2019, paladium telah bergerak menguat 42,48 persen, berada persis di belakang kinerja nikel yang menjadi komoditas dengan penguatan terbesar.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Oktober 2019  |  14:13 WIB
Paladium batangan disimpan di salah satu pabrik milik Krastsvetmet, di Krasnoyarsk, Rusia, Selasa (9/4/2019). - Reuters/Ilya Naymushin
Paladium batangan disimpan di salah satu pabrik milik Krastsvetmet, di Krasnoyarsk, Rusia, Selasa (9/4/2019). - Reuters/Ilya Naymushin

Bisnis.com, JAKARTA - Paladium terus mencoba mencetak level rekor baru pada perdagangan Selasa (29/10/2019), setelah berhasil melampaui US$1.800 per troy ounce.

Aturan penjagaan kualitas udara yang lebih ketat meningkatkan permintaan untuk logam yang digunakan dalam perangkat pengendalian polusi kendaraan itu. Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.54 WIB, harga paladium di pasar spot bergerak stabil di level US$1.802,66 per troy ounce.

Pada perdagangan Senin (28/10), paladium berhasil menembus level US$1.800 per troy ounce untuk pertama kalinya dalam sejarah dan sempat menyentuh level US$1.810,2 per troy ounce.

Sepanjang tahun berjalan 2019, paladium telah bergerak menguat 42,48 persen, berada persis di belakang kinerja nikel yang menjadi komoditas dengan penguatan terbesar.

Ahli Strategi Komoditas TD Securities Toronto Ryan Mckay mengatakan ketatnya pasar paladium terus menjadi pendorong utama harga hingga mencapai level rekor terbaru. UU lingkungan hidup terbaru di Eropa dan China telah memperketat pasokan dan meningkatkan permintaan, meskipun penjualan mobil di beberapa negara melambat.

Sebagai informasi, Eropa telah mengurangi target emisi pada 2020, 2025, dan 2030 yang akan diikuti oleh beberapa negara lain. Morgan Stanley juga telah menyatakan mulai 2020 di China, setiap kendaraan perlu mengandung sekitar 30 persen lebih banyak paladium, platinum, dan rhodium. 

“Paladium juga memiliki sentimen yang lebih baik dari industri logam yang kompleks dan itu juga sangat membantu harga bergerak lebih tinggi,” ujar Mckay seperti dilansir dari Bloomberg, Selasa (29/10).

Dia menyampaikan pada Agustus 2019, produksi paladium di Afrika Selatan menyusut dengan jumlah terbesar dalam 18 bulan terakhir dan pemadaman listrik di negara itu juga telah membayangi prospek pasokan yang sebelumnya sudah dalam tekanan.

Pertumbuhan ekonomi Rusia, salah satu produsen paladium, hampir tidak bergerak pada bulan lalu sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar ekspansi produksi paladium akan terhenti dan pasokan makin dalam tekanan.

Selain itu, spekulasi terkait hubungan dagang antara AS dan China yang bergerak lebih dekat ke kesepakatan perdagangan parsial juga membantu mengangkat harga.

Kendati demikian, terdapat kekhawatiran bahwa harga paladium yang tinggi bisa mendorong pembuat mobil untuk menemukan bahan yang lebih murah sebagai katalis polusi dalam perangkat mobil. Platinum, logam yang lebih murah digunakan sebagian besar dalam kendaraan diesel, sering disebut sebagai alternatif yang mungkin menggantikan paladium.

Namun, menurut analis Johnson Matthey, penggunaan platinum dalam mobil masih harus memerlukan inovasi yang lebih mutakhir agar bisa menyamakan kinerja katalis berbasis paladium. Di sisi lain, paladium dinilai rentan untuk berbalik melemah akibat kecenderungan aksi ambil untung oleh investor ketika harga berhasil sentuh level tertingginya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

paladium
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top