Tak Terpengaruh Pelantikan, Pasar Obligasi Cermati Susunan Menteri Terpilih

Menurutnya, pelaku pasar lebih penasaran menanti tim ekonomi Kabinet Kerja Jilid II seperti menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) misalnya karena BUMN menerbitkan surat utang dengan nilai cukup tinggi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  07:48 WIB
Tak Terpengaruh Pelantikan, Pasar Obligasi Cermati Susunan Menteri Terpilih
Presiden Joko Widodo (tengah) bersama Wakil Presiden Ma'ruf Amin (kiri) dan Ketua MPR Bambang Soesatyo (kanan) memberikan keterangan kepada wartawan seusai upacara Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 di Gedung Nusantara, kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (20/10 - 2019).

Bisnis.com, JAKARTA – Pasar obligasi pada perdagangan hari ini, Senin (21/10/2019), diprediksi tak terpengaruh pelantikan presiden dan wakil presiden masa jabatan 2019-2024.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto mengatakan pelantikan presiden dan wakil presiden hanyalah acara seremonial sehingga pasar obligasi tak terlalu terpengaruh.

Menurutnya, pelaku pasar lebih penasaran menanti tim ekonomi Kabinet Kerja Jilid II seperti menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) misalnya karena BUMN menerbitkan surat utang dengan nilai cukup tinggi.

Dikutip dari data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), mandat penerbitan surat utang menyentuh Rp46,02 triliun. Berdasarkan institusinya, terdapat 26 perusahaan swasta yang akan menerbitkan surat utang dengan nilai Rp 26,12 triliun. Sisanya, surat utang yang akan diterbitkan berasal dari delapan BUMN dengan nilai Rp19,9 triliun.

Pada semester I/2019, surat utang BUMN membanjiri pasar dengan nilai Rp33,9 triliun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan emiten swasta yakni dengan Rp25,3 triliun. Kendati demikian, bila dibandingkan dengan capaian tahun sebelumnya, di tahun 2018 justru emiten swasta menerbitkan surat utang dengan nilai lebih tinggi yakni Rp72,7 triliun sedangkan BUMN menerbitkan Rp59,8 triliun.

“Kalau pelantikannya, nggak terlalu pengaruh karena [investor] sudah tahu. Yang ditunggu ini menteri ekonomi, kayak menteri BUMN karena BUMN banyak terbitkan surat utang,” ujarnya, Minggu (20/10/2010).

Di sisi lain, dia menyebut pasar obligasi lebih sensitif terhadap sentimen eksternal. Mengingat, investor asing memiliki kontribusi cukup besar dan memiliki kemampuan untuk menggerakkan pasar.

Dikutip dari data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) pada 17 Oktober 2019, kepemilikan asing dalam instrumen surat utang negara (SUN) dan sukuk negara sebesar Rp1.036,54 triliun atau 38,77% dari total Rp2.673,85 triliun surat utang yang beredar.

Penurunan suku bunga acuan oleh The Fed dan perang dagang China-Amerika Serikat, katanya, lebih mampu mendorong pasar dibandingkan sentimen domestik.

Pasalnya, penurunan suku bunga acuan akan membuat pasar RI semakin menarik sehingga merangsang aliran dana asing. Sementara itu, meruncingnya perang dagang China-Amerika Serikat membuat aset seperti rupiah dan SUN dijauhi investor karena berisiko tinggi.

“Pasar lebih dipengaruhi [sentimen] eksternal,” katanya.

Sementara itu, kondisi pasar besok diperkirakan relatif stagnan cenderung turun tipis karena menjelang lelang SUN. Seperti diketahui, Pemerintah akan melelang tujuh seri SUN dengan satu seri baru. Targetnya, pada kuartal IV/2019 pemerintah bisa meraup Rp101,47 triliun dari lima kali lelang SUN dan enam kali lelang sukuk.

“Menjelang lelang, pasar turun besok tetapi enggak terlalu signifikan,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top