Pelemahan Emas Mereda Walau Masih dalam Tekanan

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 9.59 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,16% menjadi US$1.486,6 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 14 Oktober 2019  |  10:30 WIB
Pelemahan Emas Mereda Walau Masih dalam Tekanan
Emas comex - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas melanjutkan pelemahannya pada perdagangan Senin (14/10/2019). Kendati demikian, pelemahan emas diprediksi berangsur mereda seiring dengan berkurangnya sentimen yang dapat mendorong penurunan lebih jauh.

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa harga emas terkoreksi tajam setelah AS dan China membuat kemajuan dalam negosiasi perdagangan pada pekan lalu sehingga mengangkat selera investasi aset berisiko.

Kendati demikian, pasar AS yang akan libur pada perdagangan Senin (14/10/2019) memperingati Columbus Day sehingga selain negosiasi perdagangan AS dan China, belum terlihat faktor penggerak lainnya yang dapat membuat emas bergerak turun lebih dalam.

“Harga emas masih ada tekanan, meski tampaknya sudah sedikit mereda. Harga saat ini di sekitar level US$1.485 per troy ounce, sudah lebih tinggi dibandingkan dengan level akhir pekan yaitu US$1.474 per troy ounce,” ujar Suluh kepada Bisnis, Senin (14/10/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 9.59 WIB, harga emas di pasar spot melemah 0,16% menjadi US$1.486,6 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex bergerak menguat 0,11% menjadi US$1.490,3 per troy ounce.

Suluh juga memperingatkan bahwa kendati terdapat kesepakatan parsial oleh AS dan China, investor harus tetap mewaspadai perang tarif yang mungkin masih akan terjadi secara tiba-tiba.

Saat ini pasar masih menanti pertemuan The Fed pada akhir bulan ini untuk menjadi sentimen penggerak lain bagi aset-aset investasi aman, termasuk emas.

Oleh karena itu, dia memprediksi sepanjang pekan ini emas bergerak di kisaran US$1.470 per troy ounce hingga US$1.500 per troy ounce, dan penembusan kedua level tersebut dapat memicu tren pergerakan baru bagi emas.

Sementara itu, pada perdagangan akhir pekan lalu harga emas spot sempat anjlok lebih dari 1% di tengah berita bahwa AS dan China kemungkinan akan mencapai kesepakatan parsial pada perdagangan.

Usai negosiasi perdagangan dengan China, Presiden AS Donald Trump menguraikan fase pertama dari kesepakatan dan menunda kenaikan tarif yang seharusnya berlaku pada 15 Oktober.

Namun, para pejabat di kedua belah pihak mengatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kesepakatan dapat disepakati.

Adapun, kesepakatan yang mungkin terjadi dapat mencakup pertanian, mata uang, dan beberapa aspek perlindungan kekayaan intelektual, sehingga akan mewakili langkah terbesar oleh kedua negara dalam 15 bulan terakhir selama perang dagang berlangsung.

Di sisi lain, Analis Senior Kitco Metals Jim Wyckoff mengatakan bahwa terdapat laporan bahwa Inggris dan Uni Eropa mungkin membuat beberapa kemajuan pada Brexit sehingga menumbuhkan optimisme tidak akan terjadi hard-Brexit atau Brexit tanpa kesepakatan.

Inggris mengatakan akan terdapat perundingan pada Senin (14/10) dan Perdana Menteri Boris Johnson berharap pemimpin UE akan menyetujui kesepakatan pada pertemuan puncak di Brussels pada 17 dan 18 Oktober sehingga Inggris akan keluar dari Benua Biru pada akhir Oktober dengan lebih tertib.

Sebelumnya, Perdana Menteri Irlandia Leo Varadkar telah bertemu dengan Boris Johnson dan mengatakan pertemuan berjalan dengan sangat positif sehingga memungkinkan terjadinya soft-Brexit.

“Terdapat kemungkinan tidak akan terjadi hard-Brexit dan itu mengangkat semangat kawasan Eropa terhadap aset berisiko sehingga semua yang bekerja saat ini melawan pasar emas, sehingga emas kembali tertekan,” papar Wyckoff seperti dikutip dari Reuters, Senin (14/10/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Ana Noviani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top