Beleid Baru Waralaba, Ini Respons Sarimelati Kencana (PZZA)

Sepanjang Januari-September 2019, perseroan membuka 42 outlet. Dengan demikian, total outlet PZZA menjadi 495 outlet.
Azizah Nur Alfi
Azizah Nur Alfi - Bisnis.com 03 Oktober 2019  |  13:12 WIB
Beleid Baru Waralaba, Ini Respons Sarimelati Kencana (PZZA)
Direktur PT Sarimelati Kencana Tbk. Jeo Sasantousai rapat umum pemegang saham pada Rabu (24/4/2019). - Bisnis/Azizah Nur Alfi

Bisnis.com, JAKARTA - Pengelola restoran Pizza Hut, PT Sarimelati Kencana Tbk. siap menangkap peluang ekspansi sejalan dengan pelonggaran regulasi waralaba yang tertuang dalam Peraturan Kementerian Perdagangan No.71/2019.

Jeo Sasanto, Direktur Sarimelati Kencana, mengatakan perseroan tetap mendukung program peningkatan produk dalam negeri secara konsisten. Penggunaan produk dalam negeri dalam aktivitas bisnis perseroan, seperti penggunaan peralatan panggang pizza dari lokal.

Namun, ada beberapa produk yang dibutuhkan untuk bahan baku yang belum tersedia dari lokal, seperti keju. Jeo menyebutkan saat ini penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri telah mencapai 82%.

Sebagai informasi, pasal 18 dari peraturan tersebut, mengatur penyelenggara waralaba mengutamakan penggunaan barang/jasa hasil produksi dalam negeri sepanjang memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh pemberi waralaba.

Sebelumnya, dalam pasal 19 Permendag No.53/2012 diatur bahwa pemberi atau penerima waralaba wajib menggunakan bahan bak, peralatan usaha serta menjual barang dagangan produksi dalam negeri paling sedikit 80%.

Sarimelati Kencana merupakan perusahaan jaringan restoran waralaba Pizza Hut di Indonesia. Perusahaan yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 23 Mei 2018 itu, mendapat kode saham PZZA.

"Tentunya akan memberikan peluang berkembang lebih pesat. Artinya, PZZA bisa terus berkembang ke tahun-tahun berikutnya tanpa harus dibatasi jumlah unit," katanya kepada Bisnis, Rabu (2/10/2019).

Namun demikian, regulasi yang baru juga berpeluang menimbulkan kompetisi baru bagi emiten restoran waralaba. Pasal 9 dari peraturan tersebut menyebutkan, pemberi waralaba atau pemberi waralaba lanjutan dapat menunjuk lebih dari 1 penerima waralaba atau penerima waralaba lanjutan dengan pembagian wilayah berusaha yang jelas.

Jeo mengatakan franchisor Pizza Hut umumnya lebih menyukai dengan satu franchisee (penerima waralaba) agar lebih mudah dalam pengawasan dan komunikasi, kecuali ditemukan masalah yang mengancam eksistensi merek. Sementara itu, perseroan tidak melihat ancaman dari ketentuan penyelenggaraan waralaba yang lebih longgar itu.

Optimisme ini didukung oleh diraihnya predikat Best Franchisee of The Year oleh Pizza Hut Indonesia pada 2018. Ini menjadi bukti bahwa kinerja perseroan diakui oleh pemegang franchise.

Untuk meningkatkan pertumbuhan di tengah kompetisi, perseroan terus membangun jumlah outlet baru sesuai perjanjian yang disepakati bersama, serta mengalokasikan dana untuk promosi dan pelatihan yang berkelanjutan.

"PZZA selalu menjaga komitmen untuk menjalankan operasional restoran sesuai dengan standar yang diberikan," imbuhnya.

Sepanjang Januari-September 2019, perseroan membuka 42 outlet. Dengan demikian, total outlet PZZA menjadi 495 outlet. Pada 24 Oktober 2019 nanti, perseroan juga bakal merayakan pembukaan outlet-nya yang ke 500.

Sepanjang semester I/2019, PZZA mencetak pertumbuhan penjualan sebesar 12,50% menjadi Rp1,94 triliun. Adapun, laba bersihnya tumbuh 21,63% menjadi Rp99,65 miliar.

"Pizza Hut Dumai baru dibuka 2 hari lalu. Dan menyusul Tarakan dan Sorong sebelum akhir tahun ini," imbuhnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten, pizza hut

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top