PTPP Diproyeksi Sentuh Rp2.760, Ini Ulasan Kresna Sekuritas

Hingga Selasa (1/10/2019), PTPP ditutup di level harga Rp1.695 per saham. Sepanjang tahun berjalan 2019, PTPP terkoreksi 6,09%.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  16:06 WIB
PTPP Diproyeksi Sentuh Rp2.760, Ini Ulasan Kresna Sekuritas
Pekerja mengerjakan proyek pembangunan hunian bertingkat PT PP (Persero) Tbk. di Jakarta, Senin (29/5). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA--Beberapa proyek yang ditandatangani oleh PT PP (Persero) Tbk. pada Agustus--September2019 diyakini berdampak signifikan terhadap nilai kontrak baru perseroan tahun ini.

Analis Kresna Securities Andreas Saragih dalam risetnya yang dikutip Selasa (1/10/2019) mengatakan hingga Juli 2019 nilai kontrak baru yang diraih emiten dengan kode saham PTPP tersebut tercatat senilai Rp15,9 triliun. Dari nilai ini, sebesar Rp1,86 triliun disumbang oleh anak usahanya, seperti PT PP Properti Tbk. (PPRO), PT PP Presisi Tbk. (PPRE), dan lainnya.

Raihan tersebut sekitar 32% dari target 2019 senilai Rp50 triliun. Pada Agustus dan September 2019, PTPP menandatangani beberapa kontrak baru, di antaranya pembangunan fase II tol Semarang-Demak sepanjang 16,3 kilometer dengan nilai proyek Rp5,6 triliun.

Dalam proyek tersebut, perseroan mendirikan PT Pembangunan Perumahan Semarang Demak bersama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan Misi Mulia Metrical. PTPP mengenggam 65% saham, sedangkan WIKA dan Misi Mulia Metrical masing-masing sebesar 25% dan 10%.

PTPP juga mendapatkan kontrak pembangunan pembangkit listrik yang menggunakan batu bara di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Utara senilai Rp2,1 triliun, konstruksi proyek water treatment facility di Pekanbaru dan Kampar, Riau senilai Rp1,6 triliun, serta kesepakatan proyek konstruksi smelter Nikel dengan PT Macika Mineral Industri di Sulawesi Tenggara dengan perkiraan nilai investasi oleh Macika Rp1,8 triliun.

"Kami berpendapat bahwa proyek-proyek baru tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan untuk nilai kontrak baru perseroan," ujarnya.

Pada semester I/2019, PTPP mengantongi pendapatan Rp10,72 triliun. Realisasi itu naik 12,8% dari Rp9,5 triliun periode yang sama tahun lalu. Bisnis konstruksi, yang berkontribusi 79% terhadap pendapatan secara grup, tumbuh sebesar 33% year-on-year menjadi Rp8,5 triliun.

Lini bisnis tersebut mengompensasi segmen properti dan realty serta EPC yang dilaporkan menurun secara tahunan. Pada periode yang sama, laba bersih PTPP tercatat senilai Rp363 miliar atau turun 24% secara tahunan.

Arus kas operasi perseroan negatif Rp3,54 triliun atau lebih rendah dibandingkan semester I/2018 yang senilai Rp2,53 triliun. "Kami meyakini pembayaran ke supplier dan subkontraktor menjadi faktor utama yang membebani arus kas operasi," kata Andreas.

Kresna Sekuritas tidak mengubah proyeksi untuk 2019 dan tahun depan. Sepanjang 2019, pendapatan PTPP diproyeksi mencapai Rp28,55 triliun dan Rp32,84 triliun pada  2020. Laba bersihnya diproyeksikan senilai Rp1,71 triliun pada 2019 dan Rp1,97 triliun pada 2020.

"Kami mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PTPP dengan target harga Rp2.760 untuk 2019 dengan indikasi harga per laba (price to earnings ratio/PER) 10 kali," tulis Andreas.

Saham perseroan saat ini diperdagangkan pada entry point yang atraktif dengan indikasi PER 6,5 kali sepanjang 2019. Katalis negatif untuk PTPP adalah eksekusi dari order book dan arus kas operasi.

Hingga Selasa (1/10/2019), PTPP ditutup di level harga Rp1.695 per saham. Sepanjang tahun berjalan 2019, PTPP terkoreksi 6,09%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, ptpp

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top