Pertama Kalinya Abad Ini, China Impor Nol Baja Scrap

Untuk pertama kalinya sepanjang abad ini, impor baja scrap oleh China merosot menjadi nol bulan lalu. Fakta tersebut menjadi tonggak sejarah bagi China yang diperkirakan akan beralih menjadi eksportir dalam dekade berikutnya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 24 September 2019  |  14:52 WIB
Pertama Kalinya Abad Ini, China Impor Nol Baja Scrap
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA – Untuk pertama kalinya sepanjang abad ini, impor baja scrap oleh China merosot menjadi nol bulan lalu. Fakta tersebut menjadi tonggak sejarah bagi China yang diperkirakan akan beralih menjadi eksportir dalam dekade berikutnya.

Menurut data bea cukai, produsen baja top dunia ini tidak melakukan pembelian baja scrap sama sekali dari luar negeri pada Agustus 2019.

Catatan itu sekaligus mengakhiri kondisi volume yang semakin menipis selama bertahun-tahun, setelah Presiden Xi Jinping memberlakukan pembatasan total terhadap semua impor limbah padat demi membantu melindungi lingkungan.

Pembelian oleh China telah menurun tahun ini terlepas dari tingginya harga bijih besi dan pasar domestik yang ketat. Lazimnya, faktor-faktor tersebut akan memacu lebih banyak impor.

Dalam jangka pendek, tidak adanya impor baja scrap memberi sedikit dukungan untuk bijih besi, yang sebagian besar dipasok oleh tambang-tambang di Australia dan Brasil. Bijih besi juga diketahui bersaing dengan logam sekunder sebagai bahan baku untuk pabrik baja.

Setelah 2020, pasokan baja scrap domestik China diperkirakan akan meningkat secara signifikan karena logam yang terkandung dalam segala hal, mulai dari mobil bekas hingga bangunan hancur yang mengalir kembali ke rantai pasokan.

“Impor baja scrap pada akhirnya akan menghadapi hambatan yang jauh lebih signifikan, yakni meningkatnya pasokan domestik,” tulis konsultan Kallanish Commodities Ltd. dalam sebuah laporan tentang perdagangan scrap global.

“Kami memperkirakan China kemungkinan akan ditransformasikan menjadi pengekspor baja scrap dalam jangka panjang,” tambahnya, dilansir dari Bloomberg, Selasa (24/9/2019).

China sudah menjadi pengguna baja scrap terbesar di dunia berdasarkan volume, meskipun jauh tertinggal di belakang wilayah-wilayah Amerika Serikat dan Eropa dalam hal proporsi baja yang berasal dari logam daur ulang.

Menurut Bureau of International Recycling, baja scrap berkontribusi sekitar seperlima dari kandungan besi dalam baja tahun lalu.

Pemerintah ingin meningkatkan peran tungku pembakaran scrap untuk mengurangi polusi dari tungku semburan bijih besi tradisional. Di sisi lain, pemerintah juga ingin mengambil keuntungan dari sumber bahan baku domestik yang siap pakai.

Namun dengan output baja yang secara keseluruhan akan menurun, hal ini bisa berakhir dengan lebih banyak baja scrap daripada yang dibutuhkan. Pada titik itu, pajak sebesar 40 persen untuk ekspor mungkin dikurangi, menurut Kallanish.

"Ini hanya dapat terjadi setelah pihak otoritas merasa bahwa scrap memiliki kelebihan pasokan yang cukup sehingga terbukanya pasar ekspor tidak akan menciptakan risiko guncangan harga," kata laporan itu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
baja

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top