Pilarmas Investindo Sekuritas : Obligasi Diproyeksi Melemah, Ini Sentimennya

Sejumlah sentimen eksternal diproyeksi berpengaruh terhadap pergerakan obligasi pada Senin (23/9/2019).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 23 September 2019  |  09:02 WIB
Pilarmas Investindo Sekuritas : Obligasi Diproyeksi Melemah, Ini Sentimennya
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Pasar obligasi diperkirakan melemah terbatas pada perdagangan Senin (23/9/2019), dipengaruhi oleh sejumlah sentimen.
 
Dalam risetnya, Senin (23/9), Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memperkirakan pasar obligasi cenderung melemah terbatas pada hari ini. Menurutnya, sentimen penurunan suku bunga acuan, baik oleh The Fed dan Bank Indonesia (BI), belum cukup menggerakkan pasar akibat masih tingginya volatilitas pasar dari sentimen lain. 
 
"Pagi ini, pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas," ujar Nico. 
 
Sentimen pertama berasal dari perang dagang yang kembali memanas. Hubungan China-AS belum memperlihatkan perbaikan jelang pertemuan pada bulan depan. Adapun agenda kunjungan China ke kawasan peternakan di AS batal sehingga memperuncing konflik kedua negara.
 
Sebagai imbasnya, S&P 500 turun sebesar 0,7 persen, begitu pula Nasdaq Composite yang turun 1,2 persen. 
 
Sentimen kedua, Goldman Sachs menyatakan bahwa volatilitas akan naik sebesar 25 persen pada Oktober 2019. Nico menyatakan tingginya volatilitas ini akan mempengaruhi pasar berkembang yang juga bergejolak.

Alasannya, perang dagang China-AS tak akan selesai dalam waktu dekat sehingga masih cukup kuat menekan kinerja pasar domestik. Sebagai gambaran, dia menyebut perpindahan dana dari pasar saham ke obligasi terjadi meskipun secara umum, kedua pasar ini masih mendapatkan dana asing. 
 
Atas gejolak tersebut, Gubernur The Fed Jerome Powell  juga akan memberikan keterangan tentang prospek ekonomi berikutnya. 
 
Sentimen terakhir datang dari rencana pemangkasan tarif pajak oleh Pemerintah India. India akan memotong pajak sebesar $20 miliar dan memberikan tarif pajak terhadap perusahaan domestik sebesar 22 persen atau lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya, yakni 30 persen.

Nico juga memproyeksi India akan memangkas suku bunga acuannya karena ruang pemangkasan suku bunga terbuka. Pengumuman kebijakan moneter India baru disampaikan pada 4 Oktober 2019.
 
Investor pun direkomendasikan untuk wait and see.
 
"Kami merekomendasikan wait and see hari ini," ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top