Ini Tantangan Ajak Perusahaan Keluarga untuk IPO

Mengajak perusahaan keluarga agar mau melantai di Bursa Efek Indonesia memiliki tantangan tersendiri bagi perusahaan efek. Tak hanya dari bagian pembukuan, tetapi juga mengenai strategi keberlangsungan usaha perseroan harus "dirapihkan".
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 September 2019  |  13:54 WIB
Ini Tantangan Ajak Perusahaan Keluarga untuk IPO
Pengunjung berjalan di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA -- Mengajak perusahaan keluarga agar mau melantai di Bursa Efek Indonesia memiliki tantangan tersendiri bagi perusahaan efek. Tak hanya dari bagian pembukuan, tetapi juga mengenai strategi keberlangsungan usaha perseroan harus "dirapihkan".

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto menjelaskan, untuk perusahaan keluarga memang ada tantangan tersendiri untuk diajak menjadi perusahaan tercatat lewat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO).

“Perusahaan keluarga terbiasa dengan pembukuan yang ala kadarnya, yang penting untung. Ini yang harus diberesin dulu,” jelas Ocky kepada Bisnis, Kamis (20/9/2019).

Dirinya melanjutkan, ketika sebuah perusahaan menjadi terbuka otomatis perusahaan harus transparan dan menerapkan tata kelola manajemen yang baik (good corporate governance).

Selain itu, perusahaan keluarga juga belum tentu memiliki visi dan misi strategis yang sama dalam menjalankan bisnis.

“Alih generasi di perusahaan keluarga yang selalu jadi masalah, dengan menjadi perusahaan terbuka justru menjadi solusi,” tutur Ocky.

Adapun, Octavianus yang juga menjabat sebagai direktur di Kresna Sekuritas juga menyampaikan bahwa pihaknya terus aktif mendekati prospek perusahaan yang ingin IPO dari berbagai latar belakang, termasuk perusahaan keluarga.

Namun, pertimbangannya tetap fokus pada going concern perusahaan yang harus memperlihatkan pertumbuhan yang berkelanjutan. Bahkan, dari sisi pertumbuhan juga harus menarik sebesar double digit.

“Ini penting karena underwriter memiliki kewajiban moral pada saat menjual saham ke investor minoritas,” imbuhnya. 

PT UOB Kay Hian Sekuritas mengungkapkan, saat ini sebagian besar perusahaan yang ada di pipeline untuk IPO berasal dari perusahaan keluarga.

Head of Financial PT UOB Kay Hian Sekuritas Nefo Handojo mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memproses 9 perusahaan yang ingin melakukan aksi korporasi, dengan perincian 7 aksi IPO dan 2 aksi penambahan modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

“Hampir semuanya [perusahaan keluarga],” kata Nefo kepada Bisnis.

Adapun, para calon emiten itu berasal dari berbagai sektor, seperti tambang, konsumer, dll. Kata Nefo, nilai total dana yang akan dihimpun dari aksi korporasi yang sudah ada di pipeline itu berkisar Rp700 miliar—Rp800 miliar.

Sebanyak 5 calon emiten disebut bakal melantai di bursa menjelang akhir tahun ini menggunakan buku cut off Juni 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ipo

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top