IHSG Gagal Perpanjang Reli, Suku Bunga BI Perkuat Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal memperpanjang relinya dan berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (19/9/2019), di tengah pelemahan bursa Asia.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 19 September 2019  |  16:35 WIB
IHSG Gagal Perpanjang Reli, Suku Bunga BI Perkuat Rupiah
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) gagal memperpanjang relinya dan berakhir di zona merah pada perdagangan hari ini, Kamis (19/9/2019), di tengah pelemahan bursa Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup melemah 0,51 persen atau 32,16 poin di level 6.244,47 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Rabu (18/9), IHSG berakhir di level 6.276,63 dengan kenaikan 0,64 persen atau 39,94 poin, reli hari kedua berturut-turut.

Indeks mulai tergelincir dari penguatannya dengan dibuka turun tipis 0,04 persen atau 2,45 poin di level 6.274,18 pagi tadi. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.242,89 – 6.282,06.

Seluruh sembilan sektor berakhir di zona merah, dipimpin pertanian (-1,44 persen), aneka industri (-1,19 persen), dan tambang (-1,19 persen).

Dari 653 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 136 saham menguat, 266 saham melemah, dan 251 saham stagnan.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan PT Astra International Tbk. (ASII) yang masing-masing turun 1,39 persen dan 1,49 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Sejalan dengan pelemahan IHSG, indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melemah 1,07 persen, indeks FTSE Straits Times Singapura dan FTSE Malay KLCI masing-masing turun 0,16 persen, sedangkan indeks PSEi Filipina turun tipis 0,05 persen.

Meski demikian, indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang masing-masing mampu berakhir naik 0,38 persen dan 0,56, sedangkan indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing menguat 0,46 persen dan 0,37 persen.

Dilansir Reuters, indeks MSCI Asia Pacific berakhir melemah 0,5 persen saat pelemahan saham di Hong Kong dan India mengimbangi kenaikan bursa saham di Jepang dan China.

Dalam pertemuan yang berakhir Kamis (19/9), Bank of Japan (BOJ) mempertahankan target suku bunga jangka pendek pada minus 0,1 persen dan janji untuk menjaga imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran 0 persen.

Langkah tersebut berbanding terbalik dengan The Fed yang memutuskan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin untuk kedua kalinya tahun ini di tengah risiko global yang intensif.

Dalam pertemuan kebijakan moneternya (FOMC meeting) yang berakhir Rabu (18/9/2019) waktu setempat, The Fed mengumumkan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 1,75 persen hingga 2 persen.

Kendati The Fed kembali memangkas suku bunga acuannya, para pembuat kebijakan juga terdengar memberikan sinyal beragam tentang langkah mereka selanjutnya.

Proyeksi dari seluruh 17 pembuat kebijakan yang dirilis pada akhir pertemuan menunjukkan ketidaksepakatan yang lebih besar. Sebanyak tujuh dari mereka mengharapkan pemangkasan suku bunga ketiga tahun ini.

Sementara itu, lima anggota melihat langkah pemangkasan suku bunga saat ini adalah yang terakhir untuk 2019, dan lima lainnya tampak menentang langkah pemangkasan pada Rabu (18/9).

“Ini adalah hal positif yang kecil untuk harga saham pada masa tidak ada resesi,” ujar Shane Oliver, kepala strategi investasi dan kepala ekonom di AMP Capital Investors, Sydney.

"Satu-satunya masalah adalah pemangkasan 25 basis poin yang sudah diperkirakan serta komentar dan proyeksi yang tidak se-dovish harapan pasar,” tambahnya, dikutip dari Reuters. 

Sementara itu di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI 7DRRR) sebesar 25 basis poin menjadi level 5,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berakhir Kamis (19/9).

Adapun suku bunga Deposit Facility turun sebesar 25 bps menjadi 4,5%, dan suku bunga Lending Facility sebesar turun 25 bps menjadi 6%.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, kebijakan ini konsisten dengan target inflasi dan imbal hasil aset keuangan domestik yang tetap menarik serta langkah preemptive untuk mendorong ekonomi domestik di tengah perlambatan ekonomi global.

Perry juga menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga The Fed tidak mempengaruhi keputusan Bank Indonesia.

“BI akan mempertahankan bauran kebijakan yang mengakomodasi sejalan dengan proyeksi inflasi yang rendah dan kebutuhan untuk terus mendorong momentum pertumbuhan ekonomi,” jelas Perry, dikutip dari Bloomberg.

Menyusul keputusan BI, nilai tukar rupiah berhasil memperpanjang penguatannya sebesar 7 poin atau 0,05 persen dan berakhir di level Rp14.060 per dolar AS hari ini, setelah ditutup terapresiasi 33 poin atau 0,23 persen di posisi 14.067 pada Rabu (18/9).

Padahal, rupiah sempat tergelincir dan melemah hingga menyentuh level 14.105, setelah dibuka terdepresiasi 34 poin atau 0,24 persen di Rp14.101 per dolar AS pagi tadi.

Menurut Mizuho Bank, BI kemungkinan akan lebih lanjut melakukan penurunan suku bunga untuk menopang pertumbuhan seraya memperhitungkan kebutuhan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Tekanan antara penurunan suku bunga dan stabilitas nilai tukar rupiah jelas merupakan penyebab kendala kebijakan,” ujar Wisnu Varathan, kepala ekonom dan strategi di Singapura.

“Tapi sampai sekarang, BI tampaknya mempertahankan garis-garis dovish dan kami memperkirakan lebih banyak pemangkasan sepanjang tekanan pertumbuhan dianggap bertahan,” tambahnya.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BMRI

-1,39

ASII

-1,49

TLKM

-0,94

UNTR

-3,44

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

POLL

+6,50

FREN

+5,84

MAYA

+3,70

PNBN

+4,48

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top