Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Goldman Sachs: Bukan The Fed, Ini Faktor Terbesar Penggerak Dolar AS

Perang dagang yang berlarut-larut antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan China dipandang berdampak lebih besar terhadap nilai dolar AS ketimbang sikap kebijakan Federal Reserve.
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018)./ANTARA-Akbar Nugroho Gumay
Petugas menghitung mata uang rupiah dan dolar AS di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Selasa (9/10/2018)./ANTARA-Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Perang dagang yang berlarut-larut antara pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan China dipandang berdampak lebih besar terhadap nilai dolar AS ketimbang sikap kebijakan Federal Reserve.

Menurut Zach Pandl, co-head global FX and emerging-market strategy Goldman Sachs Group Inc., The Fed bukanlah faktor tunggal terbesar untuk pergerakan dolar AS saat ini.

Selain perang dagang antara kedua negara berekonomi terpanas itu, pelarian ke obligasi juga berdampak besar pada pergerakan dolar AS.

“Data menunjukkan aliran keluar portofolio dari hampir setiap negara, kecuali AS, masuk ke obligasi selama Agustus turut mengangkat dolar AS,” terang Pandl, seperti dilansir dari Bloomberg.

Presiden Donald Trump telah mengecam dampak penguatan greenback terhadap produsen-produsen AS seperti Caterpillar Inc., Boeing Co. dan Deere & Co., dengan berulang kali menyalahkan The Fed karena gagal memangkas suku bunga dengan cukup dalam guna memperlemah mata uang ini.

Sementara itu, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama, berakhir melemah pada perdagangan Kamis (12/9/2019), terlepas dari laporan bahwa pemerintah AS tengah mempertimbangkan kesepakatan perdagangan terbatas dengan China.

“Prospek yang lebih baik untuk pertumbuhan global cenderung mengangkat imbal hasil Treasury dan membebani dolar AS,” lanjut Pandl.

Pelemahan dolar AS, sambungnya, kemungkinan akan berumur pendek. Baik pemerintah AS dan China memiliki minat untuk berunding dalam waktu dekat dan ini dapat menyebabkan berlanjutnya berita positif selama beberapa pekan ke depan.

“Tapi kami masih melihat penghalang yang sangat tinggi untuk perjanjian yang langgeng. Kami ragu kita sedang berada dalam jalur penurunan eskalasi,” papar Pandl.

Indeks dolar AS, yang turun sebanyak 0,5 persen pada perdagangan Kamis, diperkirakan akan mencapai level 99,7 pada bulan Desember dibandingkan dengan level saat ini di 98,4.

“Meski demikian sulit untuk memiliki keyakinan pada hal-hal apa yang akan berubah karena isu perdagangan,” pungkasnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper