Emas Kembali Bergerak di Bawah US$1.500

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.20 WIB, harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,56% menjadi US$1.490,67 per troy ounce.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 10 September 2019  |  11:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Emas terus melanjutkan pelemahannya dengan bergerak menembus ke bawah level support kunci US$1.500 per troy ounce pada perdagangan Selasa (10/9/2019) seiring dengan meningkatnya selera investor terhadap aset berisiko.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 11.20 WIB, harga emas di pasar spot bergerak melemah 0,56% menjadi US$1.490,67 per troy ounce, sedangkan emas berjangka untuk kontrak Desember 2019 di bursa Comex terkoreksi 0,87% menjadi US$1.498,4 per troy ounce.

Analis PT Maxco Futures Suluh Adil Wicaksono mengatakan bahwa umumnya ketika level psikologis US$1.500 ditembus ke bawah dapat menimbulkan stigma ke pasar bahwa akan terjadi pelemahan tajam pada emas.

Tercatat, emas telah menyentuh level terendahnya dalam 2 pekan terakhir, dan reli kuat yang terjadi dalam beberapa bulan perdagangan lalu tampak telah terhenti.

“Namun, saya tidak melihat pelemahan ini akan bertahan lama. Justru ini akan menjadi momentum beli ketika harga rendah,” ujar Suluh kepada Bisnis, Selasa (10/9/2019).

Dia mengatakan bahwa saat ini pelaku pasar di perdagangan berjangka bursa Comex mulai masuk ke posisi long (buy) untuk emas kontrak 3 bulan sehingga mengindikasikan bahwa pelemahan saat ini merupakan sebuah momentum.

Adapun, tekanan terhadap emas dalam beberapa perdagangan terakhir terjadi karena sengketa perdagangan AS dan China kini telah mereda sehingga menjadi katalis positif bagi aset berisiko.

PPI dan CPI China periode Agustus yang baru saja dirilis dan menunjukkan adanya pelemahan akan menjadi sentimen negatif bagi emas karena pasar akan semakin berharap adanya stimulus yang dapat digelontorkan Bank Sentral China sehingga mendukung aset berisiko.

Selain itu, kecenderungan investor untuk melakukan aksi ambil untuk di saat harga telah masuk ke level overbought juga menjadi sentimen yang membebani emas.

Kendati demikian, dia menyarankan kepada investor untuk tetap waspada ketika Presiden AS Donald Trump membuat kejutan-kejutan terkait tarif dan perang dagang antara AS dan China.

“Tensi mereda, bukan berarti hilang begitu saja,” ujar Suluh.

Suluh mengatakan, level support kuat untuk emas saat ini berada di US$1.458 per troy ounce dengan level resisten di US$1.505 per troy ounce.

Sementara itu, Analis PT Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan dalam publikasi risetnya bahwa emas bergerak turun karena meningkatnya imbal hasil obligasi AS yang mendorong investor beralih ke pasar saham, minyak, dan aset berisiko lainnya.

“Harga emas berpeluang bergerak turun menguji level support di US$1.483 per troy ounce dan penembusan level support tersebut berpeluang menekan harga emas untuk menguji level support selanjutnya US$1.477 dan US$1.473 per troy ounce,” ujar Ahmad seperti dikutip dari risetnya, Selasa (10/9/2019).

Selanjutnya, pasar akan fokus terhadap pertemuan European Central Bank (ECB) pada pekan ini dan pertemuan The Fed pada pekan depan terkait dengan proyeksi pemangkasan suku bunga oleh masing-masing bank sentral tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Emas Hari Ini

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top