Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Reksa Dana Dollar AS Kian Perkasa

Seluruh produk reksa dana berdenominasi dollar AS mencetak kinerja positif sejak awal tahun tertopang oleh sentimen pemangkasan suku bunga di Negeri Paman Sam. Prospek penguatan greenback pun dinilai membuat investor kian tertarik berinvestasi di instrumen ini.

Bisnis.com, JAKARTA—Seluruh produk reksa dana berdenominasi dollar AS mencetak kinerja positif sejak awal tahun tertopang oleh sentimen pemangkasan suku bunga di Negeri Paman Sam. Prospek penguatan greenback pun dinilai membuat investor kian tertarik berinvestasi di instrumen ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 26 Agustus 2019, sebanyak 36 produk reksa dana berdenominasi dolar AS mencatatkan imbal hasil positif di rentang 24,18%—1,10% secara year-to-date (ytd).

Adapun pada 10 besar produk reksa dana berdenominasi dollar AS dengan return tertinggi, sebagian besar merupakan produk reksa dana jenis pendapatan tetap sebanyak 6 produk. 

Sisanya, sebanyak 2 produk berjenis reksa dana saham dan 2 produk berjenis reksa dana campuran.

Produk reksa dana pendapatan tetap besutan PT Surya Timur Alam Raya (STAR), yaitu Star Fixed Income Dollar, mencetak kinerja tertinggi sebesar 24,18% ytd.

Selanjutnya, reksa dana pendapatan tetap Cipta Obligasi Dollar yang dikelola oleh PT Ciptadana Asset Management dan reksa dana saham Ashmore Dana USD Equity Nusantara dari PT Ashmore Asset Management Indonesia menyusul dengan imbal hasil masing-masing sebesar 17,27% ytd dan 15,44% ytd.

Irwanti, Director & Portfolio Manager Schroders Indonesia menjelaskan, reksa dana berdenominasi dollar AS masih prospektif dan diminati ke depannya ditopang oleh potensi menguatnya indeks dollar AS.

“Kami melihat prospek reksa dana dollar AS masih menjanjikan karena mata uang dollar AS memang berpontensi menguat dibandingakan mata uang global lainnya,” kata Irwanti kepada Bisnis, Kamis (29/8/2019).

Dirinya menjelaskan, potensi penguatan greenback ditopang oleh posisi AS yang saat ini masih menjadi ekonomi terkuat di antara negara-negara kelompok 7 (G7).

Selain itu, tingkat suku bunga di Negeri Paman Sam sejauh ini juga masih positif, dibandingkan dengan suku bunga di Zona Euro dan Jepang yang berada di area negatif, sehingga menjadikan mata uang dollar AS menjadi tumpuan investasi global.

Adapun, inflasi di AS yang stabil diperkirakan fund manager asal Inggris itu bakal dapat memberi ruang pemangkasan suku bunga lebih lanjut kepada Bank Sentral AS (Federal Reserve).

Irwanti  menilai, The Fed tampak tak memiliki pilihan selain menurunkan suku bunga mengingat adanya ancaman perlambatan ekonomi di AS akibat perang dagang dengan China.

Selain itu, kondisi kurva yield telah kian inverted yang mana pada posisi Fed Funds Rate (FFR) saat ini di kisaran 2,00%—2,25%, yield Treasury AS bertenor 2 tahun dan 10 tahun semakin bergerak turun masing-masing sebesar 1,52% dan 1,47%.

Berikutnya, pemangkasan suku bunga lebih lanjut dari The Fed bakal menjadi sentimen posiitif bagi pasar obligasi dollar AS lainnya, seperti EM Sovereign Bonds. 

Dengan demikian, menurut Irwanti, reksa dana pendapatan tetap bakal memiliki risk reward yang lebih menarik.

Untuk reksa dana dollar AS berbasis saham, Irwanti melihat kinerjanya akan mengalami konsolidasi terlebih dahulu, setelah pasar saham di AS mengalami kenaikan yang cukup kencang selama beberapa tahun terakhir.

“Kami melihat ada risiko perlambatan pertumbuhan pertumbuhan EPS (Earning-per-Share) pada 2020 di pasar saham AS karena mulai menurunnya capex dan siklus investasi di sana seiring dengan penurunan keyakinan berbisnis serta high base dari belanja konsumer pada 2019,” jelas Irwanti.

Lebih lanjut, outlook dollar AS dan ekonomi Negeri Paman Sam masih akan menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan investor sebelum masuk ke reksa dana berbasis dollar AS.

Saat ini, Irwanti menambahkan, faktor pendorong utama kinerja reksa dana dollar AS adalah interest rates differential yang masih menguntungkan mata uang dollar AS serta data konsumsi dan pengeluaran ritel di AS yang masih kuat.

Namun, tantangan terbesar untuk instrumen investasi ini berasal dari risiko perang dagang AS—China yang dapat mempengaruhi keyakinan korporasi AS untuk melakukan ekspansi bisnis dan berinvestasi.

Skenario terburuknya adalah hal itu dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi AS ke depannya. Selain itu, perang dagang juga dinilai dapat menimbulkan inflasi karena kenaikan harga akibat diberlakukannya tarif impor yang lebih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper