Lanjutkan Reli, Harga Nikel Menyalip Timah

Nikel di London Metal Exchange (LME) naik sebanyak 1,6% menjadi US$15.910 per ton, sedangkan kontrak nikel turun ke level US$15.765 per ton.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  18:34 WIB
Lanjutkan Reli, Harga Nikel Menyalip Timah
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Harga nikel di bursa London pada perdagangan Selasa (27/8/2019) berada di jalur untuk ditutup lebih tinggi dari harga timah untuk pertama kalinya sejak September 2010.

Hal tersebut didukung oleh reli harga nikel sepanjang tahun berjalan ini dan penurunan harga timah yang masih terjadi hingga saat ini.

Nikel di London Metal Exchange (LME) naik sebanyak 1,6% menjadi US$15.910 per ton pada awal perdagangan, melampaui kontrak timah yang bergerak mencapai level terendahnya dalam 3 tahun terakhir di level US$15.765 per ton.

Menurut data Refinitiv Eikon, jika nikel ditutup di atas timah pada LME, itu akan menjadi yang pertama sejak 15 September 2010.

Manajer STX Corp Yim Suk Jae mengatakan bahwa kejadiaan pergerakan nikel dan timah saat ini sangat diluar dugaan.

“Saya belum pernah melihat kejadian ini selama karir saya. Tapi itu karena harga timah turun dan harus diiringi dengan harga nikel yang naik,” ujar Yim Suk Jae seperti dikutip dari Reuters, Selasa (27/8/2019).

Adapun, nikel telah menjadi logam dasar dengan kinerja terbaik dan berhasil melonjak hampir 50% sepanjang tahun berjalan 2019. Hal tersebut didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap pasokan yang menipis.

Harga nikel terus bergerak naik dengan spekulasi bahwa Indonesia, sebagai pemasok utama bijih nikel, akan memajukan larangan ekspor bijih nikel yang semula dijadwalkan berlaku pada awal 2022.

Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap defisit pasokan tersebut terjadi di tengah meningkatnya permintaan pengunaan nikel untuk kendaraan listrik sehingga sangat membantu nikel untuk mengalami relinya saat ini.

Berbanding terbalik, timah di bursa LME, menjadi logam dengan kinerja terburuk di antara semua logam dasar dan telah menurun sebanyak 19% sepanjang tahun berjalan 2019 ini.

Hal tersebut diakibatkan melemahnya permintaan akibat perlambatan ekonomi China, sebagai negara konsumen terbesar di dunia. Pabrik peleburan timah China baru-baru ini memangkas produksinya karena penjualan yang lesu, biaya pemrosesan yang rendah, dan berkurangnya ketersediaan bijih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Nikel, komoditas

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top