Jelang Festival Musim Gugur, Permintaan Minyak Sawit di China Meningkat

Perang perdagangan China – Amerika Serikat serta festival musim gugur mendatang memicu peningkatan permintaan minyak kelapa sawit di China.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 27 Agustus 2019  |  08:42 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Perang perdagangan China – Amerika Serikat serta festival musim gugur mendatang memicu peningkatan permintaan minyak kelapa sawit di China.

Dilansir Bloomberg, China meningkatkan impor minyak sawit dari Malaysia hampir tiga kali lipat sejak awal Agustus karena konsumen mencari alternatif dari komoditas minyak kedelai asal AS, yang terpengaruh ketegangan perdagangan.

Peningkatan impor ini juga dipicu oleh sama dengan meningkatnya konsumsi menjelang festival Pertengahan Musim Gugur yang dirayakan pada 13 September tahun ini. Minyak sawit merupakan bahan baku utama dalam makanan gorengan dan camilan musiman seperti kue bulan.

Berdasarkan data surveyor kargo Intertek Testing Services, impor minyak sawit dari Malaysia, produsen terbesar kedua di dunia, ke China melonjak 177 persen dari bulan sebelumnya menjadi 265.045 ton pada 1-25 Agustus.

Sementara itu, Pusat Informasi Gandum dan Minyak Nasional China memperkirakan total impor minyak goreng akan akan mencapai rekor 6,7 juta ton pada Oktober, karena perang perdagangan dan penyebaran demam babi Afrika membatasi pasokan kedelai.

"Persediaan minyak kedelai telah turun di China sehingga mereka akan kekurangan minyak nabati. Tidak ada alternatif lain kecuali minyak sawit," kata Sathia Varqa, pemilik Palm Oil Analytics, seperti dikutip Bloomberg.

Lonjakan ekspor dapat mendukung patokan harga minyak sawit di Malaysia, yang naik ke level tertinggi enam bulan pada hari Senin (26/8) di tengah ekspektasi peningkatan permintaan.

Namun, Varqa memperingatkan bahwa kenaikan harga lebih lanjut berisiko mengikis minat pembeli di China terhadap produk Malaysia.

"Indonesia memiliki pangsa pasar yang lebih besar dan lebih murah, sehingga masih dapat mendominasi permintaan China," kata Varqa.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top