Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Adaro Energy (ADRO) Melesat 6,37 Persen, Ada Apa?

Berdasarkan data Bloomberg, laju saham emiten bersandi ADRO itu mengawali perdagangan, Jumat (23/8/2019), dengan menguat 35 poin ke level Rp1.055. Pergerakan produsen batu bara itu langsung melaju ke zona hijau sejak sesi pertama perdagangan.
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan saham PT Adaro Energy Tbk. menguat 65 poin atau 6,37 persen ke level Rp1.085 pada penutupan perdagangan, Jumat (23/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, laju saham emiten bersandi ADRO itu mengawali perdagangan, Jumat (23/8/2019), dengan menguat 35 poin ke level Rp1.055. Pergerakan produsen batu bara itu langsung melaju ke zona hijau sejak sesi pertama perdagangan.

Pada sesi kedua, ADRO melanjutkan penguatan. Pergerakan ditutup dengan mendarat di zona hijau dengan penguatan 65 poin atau 6,37 persen ke level Rp1.085.

Akan tetapi, untuk periode berjalan 2019, laju saham perseroan masih mengalami koreksi 10,70 persen. Tercatat, total kapitalisasi pasar yang dimiliki senilai Rp34,70 triliun.

Dalam laporan keuangan semester I/2019 yang baru saja dirilis, ADRO melaporkan laba bersih US$296,85 juta. Posisi itu tumbuh 51,93 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi pendapatan, emiten berkode saham ADRO itu membukukan pertumbuhan 10,24 persen secara tahunan menjadi US$1,77 miliar pada semester I/2019. Sebaliknya, beban pokok pendapatan perseroan hanya naik 8,28 persen secara tahunan menjadi US$1,21 miliar per 30 Juni 2019.

Berdasarkan catatan Bisnis, realisasi ADRO pada semester I/2019 berbanding terbalik dengan emiten produsen batu bara lainnya. Pasalnya, sebagian besar perseroan yang telah merilis kinerja sebelumnya melaporkan penurunan laba bersih.

Mayoritas produsen menyebut faktor utama penekan kinerja laba bersih yakni turunnya harga batu bara sepanjang semester I/2019. Kondisi itu juga tercermin dari pergerakan harga batu bara acuan (HBA) sampai dengan Agustus 2019.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan HBA US$72,67 per ton untuk Agustus 2019. Sepanjang tahun ini, HBA berada dalam tren penurunan.

Bahkan, pemerintah mencatat HBA Juli 2019 senilai US$71,92 per ton menjadi yang terendah dalam 2,5 tahun terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper