Avrist Asset Management: Potensi Upside IHSG dan Obligasi Masih Tinggi

Avrist Asset Management menyarankan investor untuk mengakumulasikan produk reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap dari sekarang.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  11:33 WIB
Avrist Asset Management: Potensi Upside IHSG dan Obligasi Masih Tinggi
Pengunjung beraktivitas di dekat layar papan elektronik yang menampilkan indeks harga saham gabungan (IHSG) di kantor PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Senin (23/10). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA--Avrist Asset Management memperkirakan upside untuk IHSG maupun pasar obligasi bakal terus meningkat hingga akhir tahun. Investor pun disarankan untuk mengakumulasikan produk reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap dari sekarang.

Direktur Utama Avrist Asset Management Hanif Mantiq menjelaskan bahwa reksa dana pendapatan tetap telah mendapat kekuatan dari pemangkasan suku bunga di AS maupun dari BI.

Selain itu, performa reksa dana pendapatan tetap pada tahun lalu telah terkoreksi cukup dalam yang mana diseret oleh yield obligasi SUN bertenor 10 tahun di kisaran 8%.

Sementara saat ini, yield SUN 10 tahun telah turun ke kisaran 7,3% dan Avrist AM memperkirakan imbal hasil tersebut akan terus turun ke level 7% hingga akhir tahun.

“Sempat kan 2017 [yield] lagi bagus-bagusnya yang SUN 10 tahun itu sempat di bawah 7%. Dibandingkan puncak sebelumnya yang di bawah 7%, ya sekarang masih belum ada apa-apanya,” ujar Hanif.

Adapun, Avrist AM memperkirakan The Fed berpeluang menurunkan suku bunga sebanyak 2 kali lagi dan akan diikuti oleh Bank Indonesia.

Hanif pun merekomendasikan reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham untuk diakumulasikan investor hingga akhir tahun.

“Kalau sampai akhir tahun ya keduanya [reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham], tapi cenderung ke [reksa dana] saham,” imbuhnya.

 Hanif menjelaskan, upside untuk pasar saham lebih tinggi seiring dengan IHSG ditargetkan berada di level 7.000 pada akhir tahun.

Kendati saat ini dirinya mengakui belum banyak investor yang melirik pasar saham seperti halnya obligasi, saat yield obligasi mendekati 7% diharapkan investor mulai masuk ke pasar saham.

Selain itu, sentimen seperti penurunan suku bunga, stabilitas rupiah, dan pembentukan kabinet pada Oktober juga dinilai menjadi penopang kinerja saham sampai akhir tahun.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 16 Agustus 2019, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja paling tinggi dan bahkan satu-satunya yang outperform dibandingkan kinerja indeks acuannya sebesar 6,20% secara year-to-date.

Pada saat bersamaan, berada di posisi paling bawah adalah indeks reksa dana saham dengan kinerja tercatat -6,02% kendati IHSG tumbuh 1,49%.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
reksa dana

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top