Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Manulife Asset Management Jagokan Reksa Dana Pendapatan Tetap

Sentimen positif untuk obligasi yang menjadi underlying asset produk reksa dana pendapatan tetap berasal dari segala sisi.
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan
Petugas menjelaskan tata cara berinvestasi kepada calon investor di gedung Jakarta Investment Center (JIC), Jakarta, Kamis (2/8/2018)./JIBI-Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Manulife Asset Management indonesia masih menjagokan reksa dana pendapatan tetap untuk dicermati investor hingga akhir tahun ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama per 16 Agustus 2019, kinerja indeks reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja paling tinggi dan bahkan satu-satunya yang outperform dibandingkan dengan kinerja indeks acuannya sebesar 6,20%.

Sementara itu, berada di posisi paling bawah adalah indeks reksa dana saham dengan kinerja tercatat -6,02% kendati IHSG tumbuh 1,49%.

Ezra Nazula, Direktur & CIO Fixed Income Manulife Asset Manajemen Indonesia (MAMI), menjelaskan bahwa sentimen positif untuk obligasi yang menjadi underlying asset produk reksa dana pendapatan tetap berasal dari segala sisi.

Dari domestik, tren pemangkasan suku bunga dan rilis data makroekonomi yang masih suportif dinilai menjadi penopang pasar obligasi sejak awal tahun.

“Tren suku bunga BI yang sudah dipangkas 25 bps. Ditambah lagi kondisi makro domestik juga sangat suportif, seperti angka inflasi masih rendah di level 3%—an,” kata Ezra kepada Bisnis, Senin (19/8/2019).

Adapun hal itu, lanjut Ezra, juga berasal dari sentimen global yang mana pada tahun ini Bank Sentral AS (Federal Reserve) tidak menaikkan suku bunga seagresif tahun lalu, bahkan malah memangkasnya. Dengan demikian, imbal hasil di dunia saat ini pun semakin turun dan para investor bakal berburu yield yang paling menarik.

Untuk akhir tahun ini, MAMI menargetkan imbal hasil SUN bertenor 10 tahun dapat menuju ke kisaran 6,5%—7% dari posisi saat ini di kisaran 7,3%—7,4%.

Selanjutnya, Bank Indonesia dinilai baru akan menurunkan suku bunga pada September sembari mengikuti tren pemangkasan suku bunga dari The Fed.

Untuk potensi pemangkasan suku bunga pada pekan ini, Ezra mengingatkan, BI harus tetap siaga dan mencermati pergerakan nilai tukar rupiah ke depannya. 

“Kami tetap perkirakan nanti di September [BI turunkan suku bunga]. Kalau memang diturunkan [pekan ini], tentu [BI] sudah memikirkan dan mungkin lebih confident atas pergerakan nilai tukar rupiah ke depannya bagaimana,” tutur Ezra.

Sejauh ini, beberapa negara seperti Thailand, Filipina, Australia, dan Selandia Baru memang telah menurunkan suku bunga yang membuat imbal hasil di seluruh dunia kian rendah. Hal itu tentunya, kata Ezra, akan memberi peluang yang menarik untuk obligasi di Indonesia.

Dengan demikian, dirinya masih merekomendasikan reksa dana pendapatan tetap untuk dicermati investor menjelang akhir tahun.

“Kami sendiri melihat reksa dana fixed income yang akan memberikan potensi imbal hasil yang menarik pada akhir tahun ini,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper