IHSG Parkir di Zona Merah, Rupiah Selip Jelang RDG BI

Pelemahan sejumlah saham emiten bank memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari penguatannya dan ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (20/8/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  16:30 WIB
IHSG Parkir di Zona Merah, Rupiah Selip Jelang RDG BI
Karyawan berada di depan papan elektronik yang menampilkan harga saham di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan sejumlah saham emiten bank memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir dari penguatannya dan ditutup di zona merah pada perdagangan hari ini, Selasa (20/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG berakhir turun tipis 0,02 persen atau 0,98 poin di level 6.295,74 dari level penutupan perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Senin (19/8), IHSG berakhir di level 6.296,71 dengan menguat 0,16 persen atau 10,06 poin, kenaikan hari kedua.

Sebelum mengakhiri pergerakannya di zona merah, indeks sempat melanjutkan penguatannya dengan dibuka naik 0,24 persen atau 15,19 poin di level 6.311,91 pagi tadi.

Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak fluktuatif di level 6.279,56 – 6.317,69.

Reliance Sekuritas menyebutkan secara teknikal IHSG mencapai target Moving Average 50 hari dengan potensi pulled back menguji kembali ke support Moving Average 200 hari setelah membentuk pola bearish counter attack.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan stochastic bergerak menjenuh dengan RSI yang telah mencapai area dekat overbought. Dengan demikian, IHSG cenderung melemah.

Senada, Analis Bina Artha Sekuritas Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, berdasarkan indikator, MACD masih berada di area negatif. Sementara itu, terlihat bahwa Stochastic dan RSI berada di area netral.

“Di sisi lain, terlihat pola bearish spinning top candle yang mengindikasikan adanya koreksi wajar pada pergerakan IHSG,” paparnya dikutip dari riset harian 

Enam dari sembilan sektor berakhir di wilayah negatif, dipimpin pertanian (-1,31 persen) dan finansial (-0,71 persen). Tiga sektor lainnya mampu ditutup di zona hijau, dipimpin infrastruktur yang naik 1,07 persen sekaligus membatasi besarnya koreksi IHSG.

Dari 651 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 164 saham menguat, 242 saham melemah, dan 245 saham stagnan.

Saham emiten bank yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing turun 1,91 persen dan 0,50 persen menjadi penekan utama pelemahan IHSG.

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah berakhir melemah 30 poin atau 0,21 persen di level Rp14.268 per dolar AS, setelah mampu terapresiasi dua hari perdagangan berturut-turut sebelumnya.

Seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah, indeks dolar AS terpantau lanjut menguat 0,04 persen atau 0,043 poin ke level 98,390, setelah berakhir naik 0,21 persen atau 0,205 poin di posisi 98,347 pada Senin (19/8).

Dilansir dari Bloomberg, rupiah melemah untuk pertama kalinya dalam tiga hari perdagangan akibat terbebani penguatan dolar AS. Pada saat yang sama, investor menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari hingga Kamis (22/8/2019).

Menurut prediksi 16 dari 23 ekonom dalam survei Bloomberg, BI akan menahan suku bunga acuannya pada 5,75 persen pada Kamis. Adapun 7 ekonom lainnya memperkirakan langkah pemangkasan menjadi 5,5 persen.

“Rupiah kemungkinan akan bergerak tertahan menjelang pertemuan kebijakan Bank Indonesia,” ujar Frances Cheung, kepala strategi makro Asia di Westpac, Singapura.

Sebaliknya, sejumlah indeks saham lain di Asia mampu mempertahankan ketangguhannya. Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang ditutup naik 0,55 persen dan 0,83 persen masing-masing. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan menguat lebih dari 1 persen.

Namun di China, dua indeks saham utamanya Shanghai Composite dan CSI 300 berakhir turun tipis 0,11 persen dan 0,09 persen masing-masing. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong ditutup melemah 0,23 persen.

Dilansir dari Bloomberg, secara keseluruhan kabar terbaru tentang perdagangan global dan suku bunga dapat meredakan keresahan investor akibat jatuhnya imbal hasil obligasi pekan lalu.

Pada Senin (19/8), Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross mengatakan pemerintah Amerika Serikat (AS) akan memperpanjang periode penangguhan sanksi untuk Huawei Technologies.

Dengan ini, raksasa teknologi asal China tersebut mendapat lebih banyak waktu untuk membeli komponen dari perusahaan-perusahaan AS hingga 18 November.

Sementara itu, Presiden Fed Bank of Boston Eric Rosengren mengesampingkan spekulasi penurunan suku bunga lebih lanjut. Ia tidak yakin bahwa melambatnya perdagangan dan pertumbuhan global akan secara signifikan menggerogoti ekonomi.

Kabar terbaru tentang perdagangan global dan suku bunga dapat meredakan keresahan investor akibat jatuhnya imbal hasil obligasi pekan lalu.

“Kami melihat bahwa selama enam bulan ke depan pasar ekuitas akan menjadi lebih baik, terutama didukung oleh suku bunga yang lebih rendah di seluruh dunia,” ujar Jun Bei Liu, manajer portofolio di Tribeca Investment Partners di Sydney, kepada Bloomberg TV.

“Tentu saja, ada beberapa isu yang muncul. Pertama adalah bahwa valuasinya tampak sangat tinggi dan konflik perdagangan adalah ketidakpastian lain pada saat ini,” tambahnya.

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

BBRI

-1,91

BBCA

-0,50

BBNI

-1,59

INKP

-4,98

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

TLKM

+3,00

TPIA

+4,42

UNVR

+1,52

ICBP

+3,25

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top