Antara Mobil Listrik, Divestasi, dan Vale Indonesia (INCO)

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) tengah diliputi oleh katalis positif, mulai dari harga nikel yang menanjak, potensi pengembangan kendaraan listrik, hingga aksi divestasi saham. Bagaimana prospeknya?
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 16 Agustus 2019  |  14:28 WIB
Antara Mobil Listrik, Divestasi, dan Vale Indonesia (INCO)
Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di smelter PT. Vale Indonesia di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA - Dalam sepekan, harga saham PT Vale Indonesia Tbk. terus melaju di zona hijau. Sentimen apa yang menjadi bahan bakar pergerakan saham produsen nikel itu?

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham emiten bersandi INCO itu menguat dari level Rp3.110 per saham pada akhir perdagangan Kamis (9/8/2019) ke level Rp3.440 per saham pada akhir perdagangan Kamis (15/8/2019).

Dengan demikian INCO menguat 10,54% dalam 1 minggu. Namun, INCO mencatat return 5,52% secara year-to-date.

kinerja Vale Indonesia

Saham INCO yang menghijau tampak kontras dengan kinerja keuangannya yang merosot pada paruh pertama tahun ini.

Pada semester I/2019, produsen nikel itu membukukan rugi bersih US$26,17 juta. Raihan itu berbanding terbalik dari laba bersih US$29,38 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Manajemen Vale Indonesia membeberkan terdapat beberapa penyebab tergerusnya kinerja semester I/2019 dibandingkan dengan semester I/2018. Salah satunya tingkat produksi dan penjualan yang lebih rendah.

INCO melaporkan volume produksi 30.711 metrik ton (MT) nikel dalam matte. Jumlah itu turun dari 36.034 MT nikel dalam matte pada semester I/2018.

Dari situ, realisasi penjualan nikel dalam matte 30.832 MT pada semester I/2019. Pencapaian tersebut turun dari 36.003 MT periode yang sama tahun lalu.

Selain turunnya produksi dan penjualan, INCO menyebut harga jual nikel lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Pasalnya, harga realisasi turun dari US$10.405 per ton pada semester I/2018 menjadi US$9.479 per ton pada semester I/2019.

aktivitas tambang Vale Indonesia

Aktivitas penambangan nikel di area pertambangan milik PT Vale Indonesia Tbk./JIBI

Tidak berhenti di situ, perseroan juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar (HSFO) dibandingkan dengan tahun lalu. Padahal, HSFO merupakan komponen biaya yang terbesar bagi perseroan.

Kendati demikian, kinerja INCO boleh dibilang membaik jika dilihat secara kuartalan. Hal itu tercermin dari rugi yang dibukukan turun dari US$20,2 juta pada kuartal I/2019 menjadi US$6,0 juta pada kuartal II/2019.

Nico Kanter, CEO dan Presiden Direktur Vale Indonesia, menjelaskan bahwa produksi nikel dalam matte lebih tinggi 35% pada kuartal II/2019 dibandingkan dengan kuartal I/2019. Produksi nikel dalam matte tercatat naik dari 13.080 metrik ton pada kuartal I/2019 menjadi 17.631 metrik ton pada kuartal I/2019.

Sementara itu, volume penjualan nikel matte naik 22% pada kuartal II/2019. Realisasi tumbuh dari 13.867 metrik ton pada kuartal I/2019 menjadi 16.965 metrik ton.

Adapun, harga realisasi rata-rata naik sekitar 7% dari US$9.117 per ton pada kuartal I/2019 menjadi US$9.744 per ton.

kinerja keuangan vale indonesia

Saat dihubungi Bisnis.com pada pekan lalu, Head of Investor Relations and Treasury Vale Indonesia Adi Susatio menuturkan tingkat produksi perseroan sudah berjalan normal sejak Mei 2019. Pihaknya berupaya menjaga agar produksi tetap berjalan normal tanpa gangguan hingga akhir tahun untuk mencapai 71.000 ton —73.000 ton.

“Kami juga akan terus menjaga agar inisiatif program penghematan biaya dapat berjalan dengan lancar dan memenuhi target tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Lebih lanjut, Adi mengungkapkan angka produksi dan biaya telah menunjukkan tren positif pada Mei 2019 dan Juni 2019. Pihaknya berharap menjaga momentum itu hingga akhir tahun.

Andy Wibowo Gunawan, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, memaparkan pihaknya masih mempertahankan proyeksi pendapatan dan laba bersih INCO pada 2019 dan 2020. Hal itu sejalan dengan optimisme harga nikel global yang solid dengan harapan mencapai rata-rata US$13.500 per ton tahun ini dan US$14.000 tahun depan.

Dengan demikian, Andy mempertahankan proyeksi pendapatan INCO US$759 juta pada 2019 dan US$809 juta pada 2020. Sementara itu, target laba bersih U$$48 juta pada 2019 dan US$65 juta pada 2020.

“Kami mempertahankan target harga kami di Rp3.050 untuk INCO. Kami juga kembali merekomendasikan hold,” jelasnya dalam riset.

Di lain pihak, Analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman dalam risetnya menurunkan peringkat dari buy menjadi add untuk INCO. Selain itu, target harga diturunkan dari Rp4.100 menjadi Rp3.400.

Kendati demikian, pihaknya menyatakan masih menyukai saham INCO karena daya tariknya yang kuat untuk sektor nikel. Kondisi itu didorong oleh penetrasi kendaraan listrik yang cepat dan defisit pasokan komoditas itu.

“INCO adalah salah satu pilihan utama bagi investor yang ingin memiliki eksposur kepada baterai nikel,” tulisnya.

Rekomendasi Saham INCO
SekuritasRekomendasiHarga Saham (Rp)
Samuel Sekuritas Indonesiabuy3.900
Mirae Asset Daewoo Co.,Ltd.hold3.050
PT Sinarmas Sekuritasadd3.400
Panin Sekuritashold3.000
Ciptadana Sekuritasbuy3.720
Danareksabuy4.400
Macquarieneutral3.545
Indo Premier Sekuritashold3.100
BCA Sekuritashold3.200

Sumber: Bloomberg, per 16 Agustus 2019.

Pekan lalu, Kamis (8/8), Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan telah meneken Peraturan Presiden terkait mobil listrik. Beleid itu bertujuan mendorong agar pelaku industri otomotif segera membangun industri mobil listrik di Indonesia.

Presiden menyebut kunci dari mobil listrik berada di baterai. Pihaknya meyakini indonesia memiliki bahan untuk membuat baterai mobil listrik di Indonesia.

Pernyataan kepala negara itu bisa jadi menjadi salah satu pelecut laju saham INCO selain tren harga nikel yang melesat dalam beberapa hari sebelumnya.

Selain mendapatkan katalis positif dari komoditas nikel, masa kewajiban divestasi 20% saham INCO juga akan segera jatuh pada Oktober 2019. Namun, proses itu tidak menutup kemungkinan akan dipercepat.

Pemerintah, lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, tengah mengkaji kelayakan bisnis produsen nikel dengan cadangan nikel terbesar di Indonesia tersebut. Kajian tersebut ditargetkan pemerintah rampung pada Agustus 2019.

Nick Kanter, Presiden Direktur PT Vale Indonesia Tbk./JIBI

Manajemen Vale Indonesia memang mengaku terbuka kepada calon pembeli saham yang wajib divestasikan perseroan. Akan tetapi, perseroan masih menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah terkait prosedur divestasi.

“Kami open saja, tetapi kalau mereka [pemerintah] tunjuk holding company [PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero)] dengan senang hati," tutur Nico beberapa waktu lalu.

Seolah gayung bersambut, Direktur Utama Indonesia Asahan Aluminium Budi Gunadi Sadikin pun menyatakan kesiapan untuk membeli kewajivan divestasi saham INCO apabila memang ditugaskan pemerintah. Bahkan, bos induk Holding Badan Usaha Milik Negara Industri Pertambangan itu mengklaim telah memiliki sumber pendanaan yang cukup.

Seperti diketahui, INCO wajib mendivestasikan sahamnya sebanyak 40% sesuai dengan PP Nomor 7 Tahun 2014. Aturan tersebut mengalami revisi keempat melalui PP Nomor 1 Tahun 2017 yang menyebut seluruh perusahaan penanaman modal asing (PMA) wajib mendivestasikan sahamnya hingga 51% setelah 5 tahun berproduksi.

Namun, INCO menyatakan kewajibannya tetap 40% seusai kontrak yang telah diamandemen. Dengan 20% saham perseroan telah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah tersebut telah diakui sebagai divestasi sehingga perseroan tinggal mendivestasikan 20% lagi.

Ditempa dengan berbagai sentimen positif dari dalam dan luar negeri dan serangakaian upaya manajamen untuk mengerek produksi, mampukah penguatan saham INCO bertahan hingga akhir tahun dan mencatatkan return positif ?

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham, fokus, vale indonesia tbk

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top