Kekhawatiran Resesi dan Lonjakan Stok Tekan Harga Minyak Mentah

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak September ditutup melemah 3,3 persen atau 1,87 poin ke level US$55,23 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI tergelincir di bawah pergerakan rata-rata 50 dan 200 hari, yang merupakan pertanda pasar bearish.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  07:51 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah anjlok paling tajam dalam sepekan karena pasar keuangan global tertekan dan persediaan minyak mentah AS membengkak.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak September ditutup melemah 3,3 persen atau 1,87 poin ke level US$55,23 per barel di New York Mercantile Exchange. WTI tergelincir di bawah pergerakan rata-rata 50 dan 200 hari, yang merupakan pertanda pasar bearish.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Oktober turun 3 persen menjadi US$59,48 di ICE Futures Europe Exchange. Minyak patokan internasional ini diperdagangkan lebih tinggi US$4,23 dibandingkan WTI untuk kontrak bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, persediaan minyak mentah AS mencatat kenaikan mengejutkan untuk minggu kedua berturut-turut. Hal itu mempercepat pelarian investor dari komoditas dan aset berisiko lainnya ketika terjadi inversi dalam kurva imbal hasil Treasury AS, yang menjadi tanda resesi.

"Orang-orang panik. Mereka mengatakan tidak dapat bertahan pada minyak mentah jika eknomi akan melambat,” kata Mark Wagoner, presiden direktur Oregon Excel Futures Inc, seperti dikutip Bloomberg.

Ketakutan akan resesi menyebar setelah imbal hasil pada obligasi 10 tahun AS jatuh di bawah imbal hasil obligasi bertenor dua tahun untuk pertama kalinya sejak 2007. Sementara itu, indeks S&P 500 hingga 3 persen.

Berbaliknya kurva imbal hasil ini merupakan yang pertama kalinya sejak Juni 2007, beberapa bulan sebelum resesi besar yang menekan pasar selamabertahun-tahun. Sejak 50 tahun terakhir, kurva imbal hasil obligasi AS selalu berbalik sebelum terjadinya resesi.

Kontraksi dalam ekonomi Jerman dan lemahnya aktivitas ritel dan industri di China juga menambah tanda perlambatan yang dapat menghentikan permintaan minyak.

Di AS, Energy Information Administration mencatat peningkatan cadangan minyak mentah AS sebesar 1,58 juta barel. Ini adalah peningkatan pekan kedua berturut-turut.

Di sisi lain, ekspor kembali pulih, stok bensin menyusut dan permintaan bensin naik ke level tertinggi dalam hampir 30 tahun terakhir.

“Sementara data bisa berubah-ubah, secara umum, peningkatan cadangan minyak mentah ketika ada kekhawatiran yang berkembang tentang resesi tidak memberikan kabar baik apa pun terhadap untuk harga minyak," kata Rob Thummel, direktur pelaksana di Tortoise.

Laporan persediaan AS memberikan tekanan lebih besar pada Arab Saudi, yang telah berjanji untuk memotong ekspor untuk membantu membendung penurunan harga, lanjut Rob.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga minyak mentah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top