Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasar Obligasi Diproyeksi Bergerak Variatif

Investor direkomendasikan melakukan wait and see dari fluktuasi harga yang diperkirakan terjadi hari ini.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  08:52 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar obligasi Tanah Air diproyeksi bergerak variatif pada perdagangan hari ini dengan ruang pergerakan di 25 basis poin hingga 30 basis poin.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Kamis (15/8/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pasar obligasi pada perdagangan sebelumnya cenderung menguat kendati dari sisi analisis teknis belum menunjukkan data yang cukup yang mendukung penguatan. Oleh karena itu, dia memperkirakan pasar obligasi cenderung bervariasi pergerakannya pada perdagangan hari ini.

"Pagi ini pasar obligasi diperkirakan akan bergerak bervariasi dengan potensi naik dan turun dengan rentang 30 – 65 bps," ujarnya.

Adapun beberapa sentimen yang menjadi pertimbangan yakni pertama, rilis data ekonomi China yang kurang menggembirakan. Menurutnya, pertumbuhan produksi industri mencapai titik terendah sejak 2002 yang berasal dari perlambatan siklus ekonomi dan ketegangan perdagangan China-AS. Selain data produksi industri, data penjualan ritel pun mengalamj penurunan cukup dalam.

Dia menilai dampak buruk yang ditanggung China merupakan salah satu konsekuensi perang dagang China-AS yang tak kunjung mencapai kesepakatan.

"Semakin lama kesepakatan tidak terjadi, maka hanya akan menambah luka menjadi lebih lama, dan lebih dalam dari yang seharusnya," katanya.

Kedua, pelaku pasar dan investor di China berharap stimulus guna mencapai kestabilan yakni pemangkasan suku bunga. Adapun, kebijakan yang berjalan saat ini berupa kombinasi pemotongan pajak untuk mendorong pengeluaran.

Bank Sentral China pun sejauh ini telah mengubah metode evaluasi pinjaman bank agar dapat memotong jumlah yang harus disimpan. Dengan demikian, kredit yang tersalur ke ke produsen dan perusahaan kecil semakin banyak.

Pemotongan suku bunga diharapkan menjadi jalan keluar untuk mendorong siklus ekonomi China yang berasal dari kegiatan ekspor, infrastruktur, dan properti yang saat ini melambat.

Ketiga, terkait kelanjutan negosiasi China dengan AS, keduanya masih akan melakukan pembicaraan yang diagendakan pada September. Namun, sepertinya niat kedua negara untuk menyelesaikan perang dagang masih menjadi tanda tanya selama keduanya berkukuh pada keinginan masing-masing.

Oleh karena itu, dia merekomendasikan agar investor melakukan wait and see dari fluktuasi harga yang diperkirakan terjadi hari ini.

"Kami merekomendasikan wait and see hari ini, naik turun harga yang melebihi batas toleransi akan menjadi arah selanjutnya bagi pasar obligasi," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top