Bursa Saham Dunia Terpukul Ancaman Resesi

Perdagangan saham di Amerika Serikat pada Kamis (15/8/2019) dibuka dengan kejutan yang tidak terduga.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  12:45 WIB
Bursa Saham Dunia Terpukul Ancaman Resesi
Bursa Saham AS - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Perdagangan saham di Amerika Serikat pada Kamis (15/8/2019) dibuka dengan kejutan yang tidak terduga.

Saham global hancur dan harga minyak memperpanjang aksi jual akibat kurva imbal hasil obligasi AS yang terinversi meningkatkan kekhawatiran tentang risiko resesi dunia.

Dilansir melalui Reuters, pasar di Asia telah bersiap untuk mengantisipasi turunnya tiga saham utama AS sebesar 3% pada dini hari, di mana saham blue-chip Dow  DJI mencatat penurunan harian terbesar sejak Oktober.

Turbulensi pada pasar saham dipicu oleh penurunan intraday semalam (overnight intraday) pada tresuri AS bertenor 10 tahun US10YT = RR yang bergeser menjadi berada di bawah imbal hasil tresuri bertenor 2 tahun US2YT = RR.

Ini merupakan penurunan pertama sejak 2007 dalam apa yang dikenal sebagai inversi kurva imbal hasil atau yang banyak dilihat sebagai tanda peningkatan risiko resesi.

Pelemahan pertumbuhan ekonomi global masih berlanjut selama beberapa bulan terakhir, terutama yang disebabkan oleh ketegangan perang dagang antara AS dan China yang terus memuncak menunjukkan bahwa beban bagi konsumen dan bisnis akan menjadi semakin berlarut-larut.

Efek merusak dari perang dagang terhadap pertumbuhan terlihat nyata pascalaporan ekonomi Jerman yang mengalami kontraksi pada kuartal kedua serta serangkaian data ekonomi China yang menunjukkan prospek yang semakin suram di pusat kekuatan Asia.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,9% pada awal perdagangan, sedangkan rata-rata pada indeks Nikkei Jepang  N225 jatuh 1,4% dan saham Australia merosot 2,1%.

Pasar China turut mengalami pukulan dengan acuan Shanghai Composite SSEC dan blue-chip CSI300  CSI300 turun masing-masing 1,1% dan 1,0%, sedangkan Hang Seng Hong Kong HSI kehilangan 0,8%.

“Kurva imbal hasil semuanya tersiksa karena resesi hampir menjadi kenyataan dan para investor kesulitan untuk keluar masalah ini karena resesi ekonomi melukai pendapatan perusahaan dan saham bisa turun sebanyak 20%,” kata Chris Rupkey, kepala ekonom keuangan di MUFG Union Bank, seperti dikutip melalui Reuters, Kamis (15/8/2019).

Di awal perdagangan Asia, imbal hasil treasuri AS 10-tahun turun ke level terendah dalam 3 tahun terakhir, sedangkan yield 30 tahun untuk US30YT = RR turun ke level 1,991%, di bawah ambang 2% dari tingkat kebijakan The Fed untuk yang pertama kalinya.

Penurunan di bawah 2% membawa seluruh kurva hingga 30 tahun berada di bawah suku bunga resmi.

Saham berjangka AS ESc1 berhasil berubah menjadi cukup stabil di perdagangan Asia, menghapus kerugian sebelumnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham global

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top