Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Ditargetkan Menuju 6.600, Ini Rekomendasi Principal Asset Management

Kondisi pasar saat ini sangat fluktuatif, investor direkomendasikan untuk mulai masuk pasar modal secara bertahap, baik ke pasar saham maupun obligasi.
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam
Karyawan melintas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/5/2019)./Bisnis-Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Perusahaan manajer investasi PT Principal Asset Management merekomendasikan investor untuk masuk ke pasar modal secara bertahap dalam kondisi sekarang ini.

CIO & Head Equity Principal AM Ni Made Muliartini menjelaskan, level indeks yang berada di kisaran 6.210 per Selasa (13/8/2019) menyediakan potensi kenaikan cukup tinggi ke target ditetapkan perseroan di level 6.600 pada akhir tahun.

Begitu pula untuk obligasi dinilai masih memiliki potensi upside sekitar 6,75%—7% pada akhir tahun.

“Oleh karena kondisi pasar saat ini sangat fluktuatif, kami merekomendasikan investor untuk mulai masuk pasar modal secara bertahap, baik ke pasar saham maupun obligasi,” kata Muliartini kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Adapun untuk sektor yang menarik, Muliartini menunjuk saham dari sektor bisnis yang diuntungkan dari kondisi suku bunga rendah, seperti perbankan, properti, telekomunikasi, dan konstruksi.

“Kami juga melihat sektor konsumsi, untuk beberapa nama perusahaan produsen bahan pokok juga masih menarik,” ujarnya.

Adapun, volatilitas pasar yang terjadi belakangan ini dinilai telah disebabkan oleh sentimen eksternal maupun internal.

Dari global, ekskalasi ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China tampaknya tidak akan berakhir dengan cepat.

Dampak perang dagang pun merembes ke negara-negara lain dan menyeret turun PDB di sana.

Tak hanya itu, ekonomi di Eropa dan beberapa negara lain seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, juga terpantau melambat.

“Perlambatan ini menyebabkan ketidakpastian di seluruh pasar modal seluruh dunia,” imbuh Muliartini.

Sementara dari domestik, setelah kekecewaan atas laporan keuangan emiten kuartal kedua dan rilis PDB kuartal kedua yang relatif lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya, defisit transaksi berjalan yang melebar membuat pergerakan IHSG menjadi terbatas dan fluktuatif.

"Dalam jangka pendek-menengah, kami lebih aktif melakukan trading dan memanfaatkan momentum pasar,” kata Muliartini.

Dirinya melanjutkan, apabila penurunan terjadi cukup drastis nantinya fund manager akan melakukan pembelian di saham-saham yang memiliki fundamental baik.

“Namun kami akan segera melakukan take profit jika saham-saham tersebut rebound cukup cepat. Alokasi aset yang dilakukan antara kelas aset saham, obligasi, maupun pasar uang, dipantau dari waktu ke waktu di tengah volatilitas tinggi yang terjadi saat ini,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Editor : Ana Noviani
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper