Minyak Mentah Menguat di Tengah Kekhawatiran Berkurangnya Permintaan

Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Senin (12/8/2019) di tengah perang dagang AS-China yang semakin dalam.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  04:30 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah menguat pada perdagangan Senin (12/8/2019) di tengah perang dagang AS-China yang semakin dalam.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman September ditutup menguat 0,8 persen atau 0,43 poin ke level US$54,93 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak Brent untuk kontrak Oktober ditutup menguat 0,04 poin ke level US$58,57 di ICE Futures Europe Exchange. Kontrak Brent telah melemah 5,4 persen pekan lalu.

Dilansir Bloomberg, eksplorasi minyak milik pemerintah Arab Saudi membatasi belanja modal sebesar 12 persenpada tahun lalu, yang menjadikan pertanda pengetatan pasokan.

"Tampaknya ada tarik menarik antara penawaran dan permintaan sekarang," kata Ashley Petersen, analis pasar minyak utama di Stratas Advisors, seperti dikutip Bloomberg.

"Kami mendapatkan beberapa indikator bahwa pasokan dikelola secara aktif tetapi ada juga kekhawatiran tentang permintaan yang begitu mengakar pada saat ini," lanjutnya.

Meskipun ada kenaikan, minyak mentah tetap melemah bulan ini di tengah kekhawatiran ketegangan perdagangan AS dan China akan berkembang menjadi perang mata uang.

Badan Energi Internasional (IEA) pada hari Jumat (9/8) memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak tahun ini dan berikutnya, serta memperingatkan adanya penurunan perkiraan lebih lanjut karena konflik perdagangan yang berlarut-larut.

Trump mengatakan awal bulan ini bahwa tarif baru impor China akan mulai berlaku 1 September. Komentar itu melepaskan langkah-langkah kebijakan perdagangan dan mata uang yang berisiko mempercepat pertarungan geopolitik yang lebih luas antara kedua negara.

Sementara itu, pekan lalu, pejabat Arab Saudi yang tidak disebutkan namanya mengatakan kerajaan berencana untuk menjaga ekspor minyak mentah di bawah 7 juta barel per hari pada September karena mengalokasikan lebih sedikit minyak daripada permintaan pelanggan.

Aramco juga akan mengurangi pasokan ke pelanggan di seluruh wilayah sebesar 700.000 barel per hari lebih rendah dari yang mereka butuhkan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top