Kekhawatiran Resesi Global Tekan Bursa Asia

Bursa saham Asia pada Senin (12/8/2019) tertekan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) menyusul perang perdagangan AS-China yang berkepanjangan.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 12 Agustus 2019  |  15:39 WIB
Kekhawatiran Resesi Global Tekan Bursa Asia
BUrsa Asia - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia pada Senin (12/8/2019) tertekan kekhawatiran terjadinya resesi ekonomi global dan Amerika Serikat (AS) menyusul perang perdagangan AS-China yang berkepanjangan.

Dilansir Reuters, indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang berbalik melemah 0,07 persen pada perdagangan sore, setelah sempat bergerak di zona hijau sebelumnya.

Penguatan sebelumnya ditopang oleh reli bursa saham China yang menguat menyusul keputusan regulator pasar modal yang melonggarkan margin pembiayaan. Indeks Shanghai Composite ditutup menguat 1,5 persen, sedangkan indeks CSI 300 naik 1,8 persen.

Lebih lanjut membantu sentimen, People's Bank of China (PBOC) menetapkan nilai referensi mata uang yuan pada level 7,0211 per dolar, lebih rendah dari referensi hari Jumat (9/8), namun lebih kuat dari ekspektasi pasar.

Aktivitas perdagangan relatif diredam dengan beberapa pasar regional, termasuk Jepang dan Singapura ditutup pada perdagangan Senin. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan ditutup menguat 0,23 persen dan indeks Hang Seng melemah 0,14 persen.

Ekonom senior di CommSec, Ryan Felsman mengatakan ada reaksi positif terhadap penetapan nilai referensi yuan pada Senin karena meyakinkan investor bahwa China tidak akan terus melemahkan yuan.

“Tetapi ketidakpastian tentang bagaimana konflik perdagangan AS-China akan diselesaikan berkontribusi terhadap volatilitas pasar,” ungkapnya, seperti dikutip Reuters.

Pekan lalu, China membiarkan yuan menembus level 7 per dolar untuk pertama kalinya sejak 2008, mendorong AS untuk memberi label China sebagai manipulator mata uang dan memicu gejolak pasar.

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya tetap dengan pendirian bahwa nilai yuan China sebagian besar sejalan dengan fundamental ekonomi.

Pada Jumat, Wall Street mengakhiri penguatan beruntun tiga hari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington melanjutkan pembicaraan perdagangan dengan Beijing, tetapi AS tidak akan membuat kesepakatan untuk saat ini.

Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro kemudian mengatakan bahwa AS masih berencana untuk mengadakan lagi perundingan perdagangan dengan para juru runding dari China.

Kekhawatiran tentang efek merusak dari perang perdagangan ditegaskan oleh peringatan dari Goldman Sachs tentang meningkatnya risiko resesi AS, dan mereka tidak lagi memperkirakan kesepakatan perdagangan akan tercapai sebelum pemilihan presiden AS tahun 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top