Sehabis Memble 4 Hari, IHSG Tancap Gas ke Level 6.200

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses memantapkan rebound-nya dan berakhir melonjak hingga menembus level 6.200 pada perdagangan hari ini, Rabu (7/8/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  16:22 WIB
Sehabis Memble 4 Hari, IHSG Tancap Gas ke Level 6.200
Pengunjung berjalan di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (10/6/2019). - Bisnis/Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sukses memantapkan rebound-nya dan berakhir melonjak hingga menembus level 6.200 pada perdagangan hari ini, Rabu (7/8/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menanjak 1,38 persen atau 84,72 poin di level 6.204,19 dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Selasa (6/8), indeks berakhir melemah 0,91 persen atau 56,23 poin di level 6.119,47, pelemahan hari keempat berturut-turut. IHSG mulai bangkit dari pelemahannya dengan dibuka naik 0,59 persen atau 36,36 poin di level 6.155,83 pagi tadi.

Kenaikan yang dibukukan pada akhir perdagangan hari ini adalah yang terbesar kedua sejak menguat 1,7 persen pada 31 Mei. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak di level 6.153,64 – 6.221,66.

Tujuh dari sembilan sektor berakhir di wilayah positif, dipimpin finansial (+1,98 persen) dan infrastruktur (+1,94 persen). Adapun sektor aneka industri dan properti masing-masing turun 0,11 persen dan 0,06 persen.

Dari 652 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, sebanyak 267 saham menguat, 151 saham melemah, dan 234 saham stagnan.

Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang masing-masing naik 3,66 persen dan 2,21 persen menjadi pendorong utama penguatan IHSG.

Kedua saham emiten bank tersebut ikut rebound setelah menjadi penekan utama pelemahan IHSG pada perdagangan Selasa (6/8).

Menurut Direktur PT Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya, rilis data cadangan devisa memberikan angin positif yang mendorong kenaikan IHSG.

“Hal ini juga ditunjang oleh masih tercatatnya capital inflow secara year to date serta stabilnya nilai tukar,” katanya dalam keterangan tertulis.

Dalam rilisnya hari ini yang dilansir Bloomberg, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia per akhir Juli 2019 sebesar US$125,9 miliar. Posisi pada Juli menandakan kenaikan sebesar US$2,1 miliar dari US$123,8 miliar pada Juni 2019.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,3 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar internasional sebesar 3 bulan impor.

“Cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan,” papar Bank Indonesia melalui keterangan dalam situs webnya.   

Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah juga berhasil membukukan rebound dan berakhir menguat 52 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.225 per dolar AS.

Pada perdagangan Selasa (6/8), rupiah berakhir terdepresiasi 22 poin atau 0,15 persen di posisi 14.277, pelemahan hari keempat beruntun.

Namun, indeks saham lainnya di Asia cenderung masih terdampak tensi dagang AS-China dan berakhir variatif. Indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah 0,33 persen saat indeks Topix mampu naik tipis 0,05 persen, sedangkan indeks Kospi Korea Selatan melemah 0,41 persen.

Sementara itu, indeks saham Shanghai Composite dan CSI 300 China masing-masing berakhir melemah 0,32 persen dan 0,41 persen, sementara indeks Hang Seng Hong Kong ditutup naik tipis 0,08 persen.

Bursa Asia bergerak cenderung variatif di tengah bertahannya kekhawatiran pasar soal tensi dagang AS-China. Kegelisahan pasar sedikit diredakan oleh pernyataan Gedung Putih mengenai keinginan untuk melanjutkan negosiasi perdagangan dengan China.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih Larry Kudlow pada Selasa (6/8/2019) mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump ingin melanjutkan perundingan perdagangan dengan China.

Pemerintah AS juga dikatakan masih berencana menjadi tuan rumah bagi delegasi China untuk melakukan perundingan pada bulan September mendatang.

Langkah China menstabilkan pelemahan nilai tukar yuan setelah menembus level 7 per dolar AS, untuk pertama kalinya sejak 2008, turut membantu meredakan sedikit kekhawatiran investor yang mengakibatkan aksi jual besar-besaran dalam beberapa hari terakhir.

Pada Selasa (6/8), Bank Sentral China, People’s Bank of China, menetapkan tingkat referensi harian pada 6,9683 per dolar, lebih kuat dari perkiraan level 6.9871 dalam survei Bloomberg terhadap 19 pelaku pasar dan analis.

Kendati demikian, tingkat referensi untuk yuan pada Rabu dilaporkan lebih lemah dan tidak jauh terpaut dari level kunci 7 per dolar, sehingga kembali menekan nilai tukar yuan yang sempat menguat sekaligus menyulut keresahan pasar tentang maksud China.

Secara keseluruhan, sentimen pasar masih rapuh. Trump menepis kekhawatiran akan perang dagang yang berkepanjangan dengan China. Namun pemerintah China telah mengirimkan peringatan keras bahwa pelabelan negeri ini sebagai manipulator mata uang akan memberi konsekuensi parah bagi tatanan keuangan global.

“Dengan masuknya isu mata uang ke dalam perang perdagangan, investor yang terekspos pada ekuitas Asia kini dihadapkan dengan berbagai faktor ketimbang prospek pendapatan langsung,” ujar Jim McCafferty, kepala penelitian ekuitas untuk Asia-Jepang di Nomura, dikutip dari Reuters.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

Kenaikan (persen)

BBRI

+3,66

BBCA

+2,21

TLKM

+1,94

ICBP

+4,18

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

Penurunan (persen)

CPIN

-1,71

ASII

-0,37

CTRA

-3,67

BSIM

-5,51

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top