PASAR OBLIGASI: Dikepung Sentimen Negatif, Harga SUN Diproyeksi Terkoreksi

Investor direkomendasikan agar mencermati pergerakan harga SUN serta fokus pada tenor pendek dan menengah. Alasannya, untuk memanfaatkan peluang terjadinya koreksi harga.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 06 Agustus 2019  |  09:39 WIB
PASAR OBLIGASI: Dikepung Sentimen Negatif, Harga SUN Diproyeksi Terkoreksi
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA--Harga surat utang negara (SUN) berpotensi menurun akibat peningkatan persepsi risiko terhadap surat utang negara berkembang, peningkatan credit default swap (CDS) dan naiknya tensi perang dagang China-AS.

Dalam hasil riset hariannya, Selasa (6/8/2019), analis MNC Sekuritas I Made Adi Saputra mengatakan perdagangan hari ini bakal tertekan faktor eksternal dan internal. Perang dagang China-AS serta persepsi terhadap risiko instrumen surat utang di negara berkembang berpotensi menurunkan harga SUN hari ini.

Di sisi lain, perlambatan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2019 membuat investor melakukan aksi wait and see. Seperti diketahui, realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2019 menyentuh 5,05% atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal I/2019 yakni 5,07% dan pertumbuhan pada periode yang sama tahun lalu, yakni 5,27%.

"Pada perdagangan hari ini kami perkirakan harga Surat Utang Negara masih berpotensi mengalami penurunan ditengah meningkatnya persepsi risiko terhadap instrumen surat utang negara - negara berkembang yang tercermin dari meningkatnya angka CDS serta kekhawatiran dari para pelaku pasar terhadap eskalasi perang dagang yang terjadi antara Amerika dan China," katanya.

Adapun, pada perdagangan sebelumnya, dua sentimen yang sama mengakibatkan kenaikan imbal surat utang. Adapun, rata-rata mengalami kenaikan sebesar 14 bps yang didorong oleh adanya penurunan harga hingga mencapai 620 bps.

Imbal hasil SUN dengan tenor pendek mengalami perubahan hingga sebesar 15 bps di tengah adanya perubahan harga yang mencapai 38 bps.

Sementara itu, imbal hasil SUN dengan tenor menengah mengalami kenaikan hingga sebesar 38 bps yang terjadi karena penurunan harga hingga 208 bps. Imbal hasil SUN dengan tenor panjang bergerak naik hingga sebesar 75 bps karena penurunan harga yang bergerak turun dengan rata-rata penurunan harga sebesar 114 bps.

Pada perdagangan sebelumnya, aksi jual oleh para investor di tengah khawatirnya eskalasi perang dagang China-AS.

Dari sisi volume perdagangan, SUN mencetak transaksi Rp18,77 triliun dari 43 seri. Sementara itu, volume perdagangan surat utang korporasi menyentuh Rp2,66 triliun dari 38 seri.

Dengan pertimbangan tersebut, dia merekomendasikan agar investor mencermati pergerakan harga SUN serta fokus pada tenor pendek dan menengah. Alasannya, untuk memanfaatkan peluang terjadinya koreksi harga.

Adapun, beberapa seri yang bisa dicermati yakni FR0031, FR0053, FR0061, FR0056, FR0059 dan FR0064. Sementara itu, untuk SUN tenpr panjang yang cukup menarik yakni FR0058, FR0065, FR0068 FR0080 dan FR0072

"Dengan masih terbukanya peluang terjadinya koreksi harga, maka kami sarankan kepada investor untuk tetap mencermati pergerakan harga Surat Utang Negara dengan fokus pada seri Surat Utang Negara dengan tenor pendek dan menengah," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top